Sumbawa, PSnews – Bulan Muharram Tahun 1437 H kali ini di Sumbawa Besar bakal berbeda dengan sebelumnya. Untuk menyemarakkan bulan pertama tahun islam tersebut, Aliansi Festival Indonesia (ALIF) menginisiasi perayaan Muharraman Sumbawa yang berlangsung terhitung sejak 1 hingga 10 Muharram.
Pimpinan ALIF, Taufik Rahzen, dalam jumpa persnya di Istana Dalam Loka, Rabu (14/10/2015) menjelaskan, kegiatan tersebut digelar untuk mencari satu icon atau waktu publik dan ruang publik. Dalam Muharram sebagai waktu publik dan Sumbawa sebagai ruang publik. Kegiatan ini nantinya akan menjadi festival yang akan digelar setiap tahun. Kebetulan bulan ini akan banyak digelar acara. Seperti festival Muharram oleh Pemda, kemudian Pacuan Kuda di Angin Laut mulai 12 sampai 25 Oktober.
Di sela-selanya ada gebyar budaya oleh Institut Ilmu Sosial dan Budaya (IISBUD) Samawa Rea dengan pola kompetisi seni tradisioal seperti kasidah rebana, bagesa dan dangdut.
“Kita akan menayangkan doa terhadap simbol hijrah dengan menerbangkan sekitar 1.437 lampion se Tana Samawa. Baik secara simbolik bahwa api harus hijrah dikembalikan ke angkasa. Itu bagian dari doa atau cara kita di Sumbawa untuk merespons adanya perubahan iklim dan bencana alam di negara ini,” terang budayawan ini.
Pelepasannya akan dipusatkan di Pacuan Angin Laut Desa Penyaring Moyo Utara pada 17 Oktober, bertepatan dengan digelarnya festival film khusus Muharraman yang berlangsung sejak 16 hingga 25 Oktober.
Sedangkan kegiatan lainnya, berupa refleksi Muharraman Sumbawa yang akan dipusatkan di Istana Dalam Loka bekerja sama dengan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS), pada Rabu (14/10/2015) malam. Dalam refleksi tersebut, bersama para stakeholder akan memberikan gagasan terhadap apa yang akan dikembangkan pada selama bulan Muharram.
“Kita ingin menjadikan selama 10 hari bulan Muharram sebagai ciri utama perayaan Muharram. Karena mungkin pertama kali digelar untuk belahan dunia bagian timur inilah perayaan Muharram pertama yang dilakukan besar-besaran,” jelasnya.
Ia berharap akan diikuti oleh seluruh pulau Sumbawa melakukannya, tapi yang pertama kali dilakukan di Sumbawa.
Di samping kegiatan-kegiatan tersebut, juga akan digelar pameran industri kreatif yang dipusatkan di pacuan Kuda Angin Laut.
Kegiatan ini, paparnya, bersifat terbuka bagi siapapun yang ingin ikut serta menyelenggarakan, tidak terpaku oleh satu kelompok, baik pemerintah maupun individu bisa menggelarnya karena waktu publiknya adalah Muharram dan ruang publiknya adalah Sumbawa di mana pun berada.
“Kita berharap kegiatan-kegiatan dalam rangka misalnya kegiatan proyek. Tapi merupakan kegiatan yang partisipatif masyarakat. Siapa pun bisa masuk dan ikut serta terlibat. Dengan demikian di seluruh Indonesia bahkan di Dunia ingin mencuri moment pertama kali di Sumbawa,” jelasnya.
Tujuan jangka panjang kegiatan ini menjadikannya sebagai festival umat atau rakyat. Mulai tahun ini dan tahun depan akan banyak kegiatan selama Muharram. Satu festival yang dirancang dan dibangun sendiri oleh masyarakat.
Sementara itu Sekretaris Lembaga Adat Tana Samawa (LATS), Syukri Rahmat, memaparkan, Rabu (14/10/2015) digelar refleksi Muharram di Istana Dalam Loka, terkait beberapa kegiatan Muharram yang telah digelar Pemda. Adapun para peserta berasal dari elemen mahasiswa, para budayawan dan akademisi.
Kegiatan tersebut dengan harapan Sumbawa nantinya bisa menjadi icon budaya tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Karena Sumbawa kaya dengan potensi budaya yang bisa diangkat tidak hanya di kawasan regional, tapi juga Internasional.
“Kita akui 2012 lalu ada keterlibatan aktif LATS, tapi sejak 2013 hingga sekarang LATS tidak terlibat. Sehingga akan coba memberikan masukan yang berarti bagi pemerintah,” tambahnya.
Rektor IISBUD, Ahmad Yamin, SH.,MH, menambahkan, pihaknya akan membuka kegiatan festival gebyar Angin Laut di Pacuan Kuda Angin Laut. Misalnya kegiatan lomba kasidah rebana yang erat kaitannya dengan nilai-nilai Islam. Lalu bagesa yang erat kaitannya dengan budaya Sumbawa. Nuansa modern juga dimasukkan ke dalamnya, yakni musik dangdut yang notabene sangat disukai oleh masyarakat di desa-desa dan para peserta pacuan.
“Sebenarnya ini adalah pancingan untuk kita masuk ke tahun berikutnya. Kita mulai dengan Muharraman, semua akan ikut serta dari pemerintah, pengusaha dan seluruh elemen masyarakat untuk meramaikan acara Muharraman Sumbawa ini,” tandas Yamin.
Ia menegaskan, IISBUD akan mendukung semaksimal mungkin kegiatan yang akan diselenggarakan oleh LATS. Tentunya IISBUD mulai menggali nilai budaya Sumbawa melalui festival dan lomba agar ke depan semakin mengakarnya budaya Sumbawa. Karena ada indikasi para kaum muda meninggalkan tradisi dan nilai-nilainya. (PSb)