Didepak dari SMAN 1 Sumbawa, GHR Terancam Putus Sekolah

Sumbawa, PSnews– “Indah masa remaja sungguh indah. Hidup penuh gairah dan ceria. Remaja tunas muda harus dijaga. Jangan sampai dia patah sebelum berbunga”. Petikan syair lagu berjudul “Remaja” ciptaan Rhoma Irama ini menggambarkan betapa pentingnya mendidik dan menjaga anak agar tidak patah arang atau putus asa sebelum meraih cita-citanya.Petikan syair lagu tersebut selaras dengan apa yang dialami seoerang siswa SMAN 1 Sumbawa berinisial GHR yang didepak dari sekolah karena dianggap melakukan kesalahan fatal. GHR terjaring pihak sekolah saat membawa obat Tramadol ke sekolahnya. Bukannya dibina, GHR justru diserahkan kepada aparat Kepolisian Resort Sumbawa dan sempat diamankan selama beberapa hari.
Atas kejadian itu, GHR telah mengakui kesalahannya karena mengkonsumsi tramadol, bukan narkoba seperti yang diisukan selama ini. Ini karena memang dia salah pergaulan dan pengaruh lingkungan. “Saya sungguh syok saat itu. Baru pertamakali berurusan dengan olisi. Padahal saya baru sekali ini membawa tramadol ke sekolah,” ungkapnya.

Saat anak-anak seusianya masuk sekolah dengan penuh ceria, namun GHR hanya duduk di rumah sambil termenung tanpa semangat. Remaja ini tampak sedih setelah dikeluarkan dari SMA Negeri 1 Sumbawa. Dia sangat kecewa tidak bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah yang sangat dicintainya. Di satu sisi dia tidak diijinkan mengikuti kegiatan sekolah, di sisi lain belum ada kejelasan dari pihak sekolah mengenai kelanjutan pendidikannya. Menurut keputusan sekolah, GHR dimutasi. Ironisnya, SMAN 1 Sumbawa yang dikenal sebagai sekolah favorit ini belum menentukan sekolah mana GHR akan ditempatkan. “Saya sudah tidak ingin melanjutkan sekolah lagi,” ucapnya lirih.

Sikap putus asa ini bukan tanpa alasan. Sebelum pihak sekolah menjatuhkan sanksi, GHR sempat masuk sekolah setelah beberapa hari diamankan polisi. Kebetulan saat itu pelajaran olahraga. Dia sangat bahagia bisa berkumpul bersama teman-temannya. Dan sebaliknya teman-temannya juga sangat mendukung kehadirannya. Ketika guru olahraga melakukan absensi siswa, nama GHR tidak disebutkan. Ternyata nama anak ini sudah dicoret dari daftar absensi. Namanya sudah diganti oleh seorang siswi dari IPS 2 yang dipindahkan ke IPS 1. Konon menurut informasi, siswi yang menggantikannya itu adalah putri seorang guru di SMAN 1 Sumbawa. Teman-teman GHR pun sempat menanyakan masalah ini pada gurunya. Oleh guru dimaksud mengarahkannya untuk menanyakan kepada guru lain.
Lantas GHR yang memiliki semangat tinggi untuk bersekolah, menemui guru tersebut. Namun guru bersangkutan menyarankannya untuk pulang karena dia sudah tidak tercatat sebagai siswa di sekolah itu.
Keputusan dewan guru bahwa dia dimutasi ke sekolah lain. Saat ditanya ke sekolah mana, guru itu meminta agar orang tuanya yang mencarikan sekolah tersebut. Saat itu GHR tetap berharap agar diberikan kesempatan pertama karena dia telah berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.
GHR juga berharap ada keadilan, karena ada siswa lain yang juga tertangkap membawa Tramadol tapi tidak diberikan sanksi seperti dirinya. Bahkan siswa itu tidak diserahkan ke polisi dan tidak dikeluarkan dari sekolah. Siswa dimaksud sampai sekarang masih tetap menjadi siswa SMAN 1 Sumbawa.
“Kenapa saya diperlakukan tidak adil. Kenapa sekolah berlaku kejam. Saya ingin seperti siswa itu yang diberikan kesempatan untuk dibina,” ungkap GHR sedih.

Sementara itu Kepala SMAN 1 Sumbawa, Fahrizal S.Pd M.Pd yang dikonfirmasi via SMS sejak Minggu (15/1) kemarin, hingga saat ini belum memberikan jawaban. Fahrizal belum menjawab saat dikonfirmasi soal dugaan terjadinya praktek diskriminatif oleh pihak sekolah terkait siswa lain berinisial AR—Kelas 10 yang juga kedapatan membawa tramadol tapi tidak diperlakukan sama seperti GHR. (PSbo)

Komentar

comments

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *