Gubernur NTB Dorong Kabupaten/Kota Bangun TechnoPark Dukung Industrialisasi

Lombok Barat, PSnews – Keberhasilan NTB memproduksi alat rapid test antigen Entram menjadi penanda industrialisasi dibidang kesehatan, setelah sektor lainnya membuktikan potensi itu. “Kami ingin science dan technopark itu ada disetiap kabupaten/ kota. Sebagai program pemerintah pusat, NTB satu satunya yang serius membangkitkan industri sebagai gerakan ekonomi baru,” ujar Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, M.Sc., di STIPark Banyumulek saat bertemu para bupati dan walikota se NTB melalui daring dalam kegiatan penyerahan bantuan rapid test antigen Entram, Senin (10/05).

Dikatakan Gubernur, industrialisasi sejatinya memberi nilai tambah terhadap bahan mentah yang terdapat di daerah kita untuk diolah dan dikemas menjadi produk jadi yang siap pakai. Selama ini industri pengolahan terlanjur dibayangkan sebagai pabrik besar sehingga bahan mentah langsung dijual ke pabrik.

Lebih jauh, Gubernur menjelaskan, fungsi science dan technopark adalah mencari potensi industri bahan mentah, melakukan alih teknologi dan mendorong masyarakat melakukan industrialisasi mulai dari skala kecil. “Era masyarakat saat ini harus mengalami proses industrialisasi tadi agar sejahtera dan dunia usaha akan menciptakan lapangan kerja dan lainnya,” kata Gubernur.

Ditambahkan Gubernur, alat rapid test yang merupakan produk teknologi dan ilmu pengetahuan membuktikan kesanggupan masyarakat NTB menciptakan produk bernilai tinggi tak sebatas UKM makanan, pertanian, perikanan dan lainnya. Bahkan, sebelumnya sepeda listrik telah menjadi ikon kebangkitan industrialisasi NTB. “Potensi inilah yang dilahirkan melalui science dan technopark nantinya di kabupaten/ kota dengan produk yang makin beragam,” jelas Gubernur.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Hj Nuryanti menjelaskan 6 (enam) sektor industri prioritas yang diusung dalam kepemimpinan Bang Zul dan Umi Rohmi hingga 2023 mendatang.

Pertama, Industri Pangan, yang menurutnya pada tahun 2020 lalu telah menorehkan sejumlah capaian, meski baru dalam proses peletakan pondasi. Nuryanti menyebut sejumlah capaian industri pangan tersebut dimulai dari kegiatan standardisasi dan sertifikasi olahan pangan lokal (halal, merek, BPOM PIRT, dan Uji Laboratorium produk lainnya). Kemudian pelibatan IKM NTB dalam penyediaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang guna mengurangi dampak Covid-19.

Juga ada Bimtek dan pendampingan bersama BPPOM untuk pangan lokal dalam kemasan/kaleng Ayam Rarang, Ayam Taliwang, Sate Rembiga, Sate Pusut serta olahan hasil pertanian/perkebunan. Perikanan/kelautan dan peternakan juga hasil hutan bukan kayu lainnya.

Kedua, Industri Hulu Agro, juga mulai menampakkan capaiannya. Misalnya Industrialisasi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti minyak atsiri, minyak cengkeh, minyak kayu putih dan lain-lain. Capaian yang kalah pentingnya dalam industri Agro ini, adalah Pembangunan pabrik pakan terbesar di NTB (Feedmill) berlokasi di STIPark Banyumulek.

Ketiga adalah Industri Permesinan Alat Transportasi. Pada sektor inipun telah mencatatkan sejumlah hadil karya putra putri NTB. Di antaranya pengembangan kendaraan listrik Le-Bui, Matric-B, dan ngebUTS. Berkembangnya aneka mesin-mesin teknologi sederhana dari IKM untuk IKM. Prototype dan bimtek pembuatan mesin-mesin untuk mendukung program zero waste, kampung unggas (mesin pakan, penetas telur dll), mesin-mesin untuk pakan ternak (pencacah rumout dll untuk pakan), dan mesin olahan makanan maupun penyulingan essens oil.

Keempat adalah industri hasil pertambangan. Fokus dalam sektor ini, menurut kadis kelahiran Mbojo ini, yakni menyiapkan segala sumber daya untuk program industri turunan smelter di Kabupaten Sumbawa Barat.

Kelima, Industri kosmetik, farmasi herbal dan kimia. Hasil yang dicapai pada industri ini antara lain; pengembangan industri kosmetik dan farmasi herbal (organik Lombok dan teh kelor). Pendampingan pembuatan APD (Alat Pelindung Diri) buatan IKM, standarisasi produk dan bantuan peralatan bagi IKM kosmetik, farmasi herbal dan alat kesehatan (APD).

Dan terakhir adalah ekonomi kreatif. Kegiatan industri inipun sudah mulai menggeliat dan melibatkan kaum melinial sebagai motor penggeraknya. Di dalamnya terdapat Moslem Fashion Industry, pelatihan pewarna alam untuk kain tenun. Bimtek tenun menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin), festival desiner tenun Lombok Sumbawa, fashion show tenun di tingkat nasional.

Nuryanti menambahkan bahwa untuk kerajinan, dikembangkan pula industri penyamakan kulit sapi, pengolahan sampah plastik dan pengolahan limbah serabut kelapa, IG mutiara dan IG ketak. Nuryanti menegaskan bahwa program industrialisasi yang dicanangkan oleh duet duo doktor ini sudah mulai menunjukan bukti dan terlihat wujud jati dirinya. Tahun 2021 ini, kata dia, pondasi industrialisasi ditargetkan tuntas. Tahun 2019/2020 adalah membangun kerangka pendukung, misalnya peraturan-peraturan di daerah tentang industrialisasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang konsep industrialisasi.

Berdasarkan target Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD), tahun 2021 ini, kata Nuryanti, capaian program industri dapat naik 1 persen dari capaian terakhir tahun 2020. “Satu persen ini adalah berkembangnya industrialisasi. Dan penyerapan tenaga kerjanya, serta jasa-jasa usaha ikutan dari masing-masing sektor,’’ ujarnya.

Target utama tahun 2021 ini adalah terbangunnya ekosistem industrialisasi. Misalnya, di sektor Moslem Fashion Industry. Yang sudah dilakukan adalah pelatihan pelatihan pewarna alam untuk kain tenun, bimtek tenun menggunakan ATBM, festival desiner tenun Lombok Sumbawa, fashion show tenun di tingkat nasional.

Ekosistem yang terbangun adalah berkembangnya IKM-IKM yang menyediakan bahan-bahan untuk pewarna alam, berkembangnya IKM-IKM pembuat motif tenun. Berkembangnya IKM tenun, kemudian berkembangnya pemasar-pemasar tenun. Belum lagi berkembangnya konveksi, desainer untuk pakaian-pakaian yang akan ditampilkan pada fashion show. Hingga jasa-jasa lain yang saling bertalian dalam ekosistem.

Kemudian di sektor Industri Permesinan Alat Transportasi, capaiannya adalah dengan dikembangkan sepeda listrik dan kendaraan listrik. Sepeda listriknya adalah Le-Bui, Matric-B, dan ngebUTS. Ekosistem yang akan dibangun dari produsen sepeda listrik ini dijelaskan kepala dinas, saat permintaannya tinggi. Dengan sendirinya, produsen membutuhkan pasokan komponen- komponen dari IKM lainnya. Misalnya, IKM pembuat baut, IKM pembuat rangka, IKM pengelasan, IKM pengecatan. Semua IKM ini juga bertalian. “Satu sepeda listrik ini, dapat mengembangkan banyak IKM lainnya. Kita targetkan tidak lagi mendatangkan komponen sepeda listrik dari luar. Mungkin hanya ban dan baterai yang tidak bisa dibuat langsung oleh IKM kita. Banyak yang hidup, tidak hanya produsen sepeda listrik saja. Inilah ekosistem itu, demikian juga yang lainnya,’’ katanya.

Tahun 2021 ini, IKM-IKM yang menjadi pioner ini sudah terbentuk. Misalnya, IKM sepeda listrik, IKM kosmetik, IKM fashion. Dari masing-masing IKM ini akan berkembang IKM-IKM lain yang menjadi penyedia/pemasok atau produsen bahan baku lainnya untuk menghasilkan satu jenis produk. ‘’Kita bangun beberapa IKM, kita kawal kebutuhan dan standarisasinya kita dampingi sampai dia menjadi penghasil produk industri yang memenuhi standar. IKM yang jadi inilah yang kemudian harus bermitra dengan IKM-IKM lainnya dalam satu ekosistem. Itulah pondasi yang kita maksudkan, dan harus tuntas tahun ini pondasi ini,’’ urainya.(PSntb)

Komentar

comments

Facebooktwitterlinkedinrssyoutube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *