OPINI : Ziarah Agung Nabi Hud AS, Pemupuk Cinta akan Cahaya Kenabian

Oleh : Ahmad Raja Azani (mahasiswa tingkat 2 Universitas Al-Ahgaff, Yaman).

Syakban merupakan bulan yang mulia, disebut sebagai bulannya Rasulullah saw karena dianjurkan untuk memperbanyak selawat di dalamnya. Pun ayat tentang berselawat (QS. Al-Ahzab 33:56) diturunkan di bulan mulia ini. Bulan yang terdapat malam yang paling mulia setelah malam Lailatul Qadr, yakni malam “Nishfu Syakban”.

Al-Habib Umar bin Hafidz mengibaratkan bahwa bulan Rajab merupakan bulan menanam, sedangkan Syakban merupakan bulan menyiram dan bulan Ramadhan nanti adalah waktu memanen.

Di Provinsi Hadhramaut, tempat saya menimba ilmu ini terdapat sebuah tradisi tahunan yang dilakukan secara turun temurun. Bukan sekedar tradisi biasa, melainkan sebuah bentuk adat istiadat yang dilakukan atas dasar cinta akan cahaya kenabian, yakni Ziarah Agung Nabi Hud As pada awal bulan Syakban yang penuh rahmat ini.

Nabi Hud As merupakan salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui. Nama lengkapnya adalah Hud bin Salikh bin Arfakhsyaz bin Saam bin Nuh hingga berlanjut ke penghulu kita semua, Nabi Adam Alaihissalam. 

Berdasarkan pendapat yang paling kuat, makam Nabi Hud As terletak di Syi’ib Hud, sebuah lembah yang berjarak sekitar 80 km dari Kota Tarim dan memakan waktu 2 jam lebih di perjalanan. 

     Untuk mempersiapkannya, para Da’i selalu mengingatkan masyarakat dengan datangnya ziarah agung ini, lantunan Tahawid, syair dan kasidah yang berkenaan dengan Nabi Hud As senantiasa dilantunkan. Dan tak lupa pula menghiasi unta-unta dengan secantik mungkin, yang nantinya akan dibawa kesana.

Puncak ziarah akbar nan agung ini terdapat pada tanggal 7-10 Syakban. Rentetan acara sedemikian rupa telah dijadwalkan sejak lama, yang pada penghujung acaranya diisi dengan pembacaan salam kepada Nabi Hud As, Nabi Muhammad saw dan para malaikat. Dan dilanjutkan dengan membaca surah Hud dan Yasin, kemudian di tutup dengan ceramah dan doa.

     Di sela-sela waktu tersebut kita juga disuguhi dengan acara Talbis akan peninggalan para Ulama, ceramah agama dan puncak dari penyejuk hati tersebut adalah mengambil berkah dari “Rambut Baginda Nabi SAW” yang diamanahkan kepada Munshib Al-Habsyi (sebuah fam dalam keluarga habaib). 

    Turut hadir dalam ziarah ini pembesar ulama di Hadhramaut, diantaranya adalah Habib Umar bin Hafidz, Habib Abu Bakar Balfaqih dan Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi. Juga beberapa habaib asal Ibu Pertiwi Indonesia, yaitu Habib Jindan bin Novel bin Jindan, Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad dan sebagainya. 

Dalam ziarah ini, kita juga bisa menemui sesama pelajar dari berbagai lembaga di Hadhramaut yang ikut memeriahkan acara. Pun merajut tali ukhuwah dan hubungan silaturahmi yang lebih solid lagi.

Akhirnya kita berharap agar ziarah kali ini dapat memupuk rasa cinta akan kenabian dan semoga kita juga dapat menziarahi para nabi dan rasul lainnya, khususnya baginda Nabi Muhammad saw, sang pembawa risalah agama yang menjadi rahmat bagi sekalian alam. Aamiin! ***

Komentar

comments

Facebooktwitterlinkedinrssyoutube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *