OPINI : Kudu Paham Cara Kerja Kapitalis

Oleh : Muhammad Mada Gandhi
(Pengamat Investasi Tambang Mineral)

Itu duit dari Bank China dipinjam BRI, BNI dan Mandiri untuk infrastruktur namun dipinjamkan ke perusahaan Tuan Ripin untuk beli NNT lebih dari Rp 32 T. Bank-bank tersebut pasang badan ke China. Sementara Tuan Ripin ke bank itu pasang proyek tambang sebagai jaminan. Begitu dikabarkan asset Tuan Rifin nambah, maka harga sahamnya di bursa efek pun melonjak drastis. Untungnya berlibat lagi Bro. Cerdik bukan?

Berkah lainnya? PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) pun dapat melepas kepemilikannya dengan harga bagus, padahal sudah mengeruk lebih dari 15 tahun isi perut Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Padahal juga dia sedang terpuruk karena harga hasil tambang lagi jatuh. Lalu hengkang tanpa harus terbeban kewajiban recovery pasca tambang.

Apa berkah untuk daerah? Ya, tenaga kerja yang terserap cukup banyak (?) Tapi ini juga jadi alat tawar. Bahasa sederhana: ”Dukung perusahaan ini agar tidak terjadi PHK. Ayo aparat daerah ikut sosialisasi agar tenaga kerja dapat terserap lagi”. Siapa yg mengkirik dianggap menghalangi investasi dan urusannya ke penegak hukum.

Begitulah kerja kapitalis Bro. Ini urusan goreng menggoreng. Kalau di Kampung kita (Sumbawa) ini ilmunya “Bonong (banyak akal)”. Apakah salah? Kagak salah. Mangkanye kalau nego kudu paham masalah secara benar. Tahu apa yang harus diminta, apa yang perlu ditolak. Jangan malah ambil kesempatan dalam kesempitan.

Muhammad Mada Gandhi

Contoh lain lagi:

Pengembang properti (terutama di kota besar), ke konsumen jual gambar rumah/apartemen bagus-bagus, tapi barang belum ada. Dari bank dapat kredit konstruksi dengan jaminan sertifikat. Juga dapat kredit consumer. Bank bayar cash ke pengembang dan konsumen yang ngutang ke bank. Yang gak pakai uang bank pada nyicil sekian kali. Begitu cicilan macet, pembangunan juga macet, ya begitulah perjanjian jual belinya.

(Makanye krisis keuangan, sebagian karena akal “Bonong”. Supaya gak terjadi kredit macet lagi ada peraturan pemerintah; Loan To Devalue/LTV, harus bayar DP dulu 30 % baru dapat akad kredit. Kredit dibayar berdasarkan progres. Bank gak mau bayar dari nol).

Apa salah? Kagak salah, begitulah kerja kapitalis. Mangkanye, kalau mau nego jangan ambil kesempatan dalam kesempitan sehingga kepala tak bisa lagi ditegakkan. Tetap optimis…! Selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan batin. (***)

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *