DR. Zulkieflimansyah dan Siklus Kekuasaan

Oleh : Poetra Adi Soerjo ( Pengamat Sejarah Kesultanan Sumbawa )

Heinrich Zollinger adalah seorang ahli botani asal Swiss yang ditunjuk Kerajaan Belanda sebagai kolektor tanaman di negeri kepulauan Hindia. Ia dibiayai oleh pemerintah untuk melakukan ekspedisi ilmu pengetahuan. Ia menjadi manusia pertama yang menginjakan kakinya di Gunung Tambora pasca letusan maha dahsyat yang merubah sejarah dunia.

Heinrich Zollinger

Tahun 1847, tepat 32 tahun pasca letusan Tambora, ia melakukan ekspedisi mengelilingi pulau Sumbawa, dari gunung hingga lembah, dari tanjung hingga teluk, mencatat ragam jenis tumbuhan, hewan, bahkan perbandingan bahasa tiap suku dan etnik. Zollinger juga mencatat jumlah sungai, ngarai, hingga berapa kedalaman teluk dan selat di pulau Sumbawa. Hal yang sama juga ia lakukan di pulau Lombok.

7 – 30 Desember 1847 ia mulai masuk Sumbawa dari sisi timur. Zollinger adalah seorang realis, ia menulis dengan gaya post behavioralis. Hal itu yang membuat catatannya begitu hidup, sangat detil dan teliti dalam menggambarkan situasi yang membuat pembaca dipaksa masuk ke dalam aura situasi di era itu.

Ia menggambarkan bagaimana perjalanan darat dari Dompu hingga masuk Sumbawa melalui desa Mata. Ia menemui Dea Kroya penguasa Ampang dan Bumi Ngampo penguasa Plampang. Dengan argumentasi etnografis ia lukiskan perbedaan watak Ngampo dan Kroya. Kroya tampak kaku dan keras sementara Ngampo lebih santun dan rendah hati. Pertemuan dengan berbagai orang dan melihat cara Sumbawa yang bukan hanya tidak memberikan apresiasi atas kehadirannya, namun bahkan tak menghargai keberadaannya sebagai tamu utusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, membuat Zollinger mulai masuk ke dalam polemik pemerintahan di Sumbawa. Di ujung catatannya Ia membuat satu catatan berjudul “Sumbawa sarang intrik“.

Memasuki Desa Lopok, Zollinger mulai dihadapkan pada polemik yang terjadi di dalam tubuh pemerintahan Sumbawa. Di Lopok Zollinger melihat situasi yang begitu genting, masyarakat tak berani keluar rumah karena sedang terjadi faksionalisasi akibat gerakan pemberontakan yang sedang disusun oleh Dea Mele Sahema.

Dea Mele Sahema adalah mantan Perdana Menteri (Ranga) yang dipecat oleh Sultan Amrullah. Sultan Amrullah mengangkat Perdana Menteri baru pengganti yang masih sangat muda bernama Dea Mele Banggae yang dijuluk Dea Ranga Rango Berang.

Peta Sumbawa

Catatan Zollinger agak sinis tentang Sumbawa karena kedatangannya sama sekali tidak disambut. Sementara ketika ia sampai di Bima, Dompu dan Sanggar letusan meriam penghormatan menyambut tiap langkahnya memasuki wilayah tersebut. Tapi di Sumbawa, kuli yang membantunya membawa barang pun susah ia dapatkan. Hal itu membuat Zollinger berkongsi dengan mantan Perdana Menteri yang sedang mempersiapkan pemberontakan. Dea Mele Sahema bagi Zollinger jauh lebih memahami dunia orang Eropa dibanding Sultan dan pejabat pemerintahan lainnya. Puncak dari konflik ini terjadi ketika Dea Mele Sahema mengancam Dea Ngampo dan Dea Kroya di Brang Rea Empang kala mengawal perjalanan balik Zollinger. Namun tindakannya itu dibalas oleh Dea Mele Banggae (Perdana Menteri baru) yang mengirimkan 300 anggota pasukan untuk mengepung pasukan Dea Mele Sahema.

Dea Ranga Mele Banggae dan Sultan Amrullah kala itu tampak memandang rendah (kalanye =bahasa Sumbawa) keberadaan orang Belanda. Hal itu membuat Zollinger melalui Controlleur (perwakilan pemerintah Belanda di Sumbawa) membuat nota protes. Menanggapi hal tersebut, Sultan Sumbawa mengundang Zollinger makan malam di Istana, tapi dengan catatan Zollinger harus membawa makanannya sendiri. Lagi lagi Zollinger dibuat geram.

Kronik perlawanan Dea Mele Sahema diceritakan rinci di dalam catatan perjalanan Zollinger tahun 1847. Namun Zollinger menyebut pada dasarnya Dea Sahema tidaklah melakukan pemberontakan, ia hanya ingin mendapatkan kembali kasih sayang Sultan. Dea Sahema disebut sangat merindukan Sultan kembali menerimanya meski tidak dalam jabatannya sebagai Perdana Menteri. “Kareda Sultan ade ku buya,” demikian bahasa Dea Mele Sahema.

Kembali ke judul terkait Siklus Kekuasaan, siapa sebenarnya Dea Mele Banggae yang berjuluk Dea Ranga Rango Berang. Seorang Perdana Menteri Kesultanan Sumbawa yang di usia muda mendapat kehormatan dari Sultan menggantikan Perdana Menteri Dea Mele Sahema yang kala itu sudah senior? Dia adalah leluhur ke -6 dari Gubernur NTB hari ini. Dalam istilah Sumbawa ia adalah Mi’ dari DR. Zulkiflimansyah.

Berikut silsilah nasab Gubernur NTB: DR. Zulkiflimansyah bin Ungang Dea Mas bin lalu Manawari Dea Ranteh bin lalu Mas Bantan Mele Paewa bin Lalu Pananrang Mele Bantan Bin Lalu Makasau Mele Banggae Dea Ranga Rango Berang Dengan Dea Bini (Istri) dari Lenangguar.

Demikianlah Siklus Kekuasaan dimana hukum besi sejara, meski tak selalu berlaku linier, namun sering menampilkan pengulangan-pengulangan. Sejarawan membaca keacakan sejarah dalam sebuah pola persamaan untuk mengurai yang ajeg dari yang acak. Seperti pola penyederhanaan berpikir dalam rumus persamaan matematika, dimana matematika adalah finding harmony in chaos. Pola ini oleh orang Jawa disebut manitis, dan orang Sumbawa menyebutnya “panising rowe tau marenta.”

Maka demkianlah hari ini kita melihat Gubernur NTB DR. Zulkieflimansyah, ia berasal dari etnik dengan populasi paling minoritas di NTB. Secara kalkulasi rasional, ia bukan saja tidak mungkin, tapi tidak boleh bermimpi menjadi pemimpin NTB. Namun sejarah telah menyatakan dirinya di hadapan ingatan pengetahuan manusia modern, bahwa siklus sejarah itu pasti berulang. Dengan tekad pribadi yang kuat, dan sebagai trah seorang Mele, sebuah trah rowe Tau Marenta (keturunan orang yang memegang jabatan) di Sumbawa, Zulkieflimansyah sukses menjungkirbalikkan rumus representasi dalam Pilkada dan sukses menjadi seorang Gubernur.

Dua buku berbahasa Belanda (Catatan Zollinger dan J.E. Jasper) sebagai sumber tulisan ini, penting sekali untuk dialihbahasakan agar sejarah dapat diakses oleh generasi penerus. Miskinnya literasi sejarah Sumbawa berbahasa Indonesia membuat orang-orang sumbawa gagap menatap masa depan karena rapuhnya pegangan untuk menoleh ke masa lalu. Sejarah kemudian dibangun di atas asumsi tanpa data, tanpa riset yang membuat penerus generasi semakin gamang kehilangan cermin diri. Saran saya kepada Dinas Arsip Provinsi NTB dan Kabupaten Sumbawa, negara memiliki anggaran transliterasi yang satuan biayanya telah ada di dalam SBI. Terjemahlah dua buku tersebut sebagai legacy. (***)

Penulis : Poetro Adi Surjo

Komentar

comments

Facebooktwitterlinkedinrssyoutube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *