Catatan Perjalanan Heinrich Zollinger di Sumbawa tahun 1847

Oleh: Poetra Adi Soerjo (Direktur Eksekutif Open Parliament Institute )

Pada tanggal 18 Agustus Aku sampai di Mata, sebuah kampung indah yang berada di wilayah Kesultanan Sumbawa. Mata dikelilingi oleh pagar dan benteng. Desa yang sangat asri. Desa ini dihuni oleh sejumlah orang. Mereka menyapaku dengan sangat ramah. Di sebelah kampong ini ada Desa Mata tua, yang berada di tepi laut, namun baru saja dijarah perampok. Aku menginap di sini semalam lalu melanjutkan perjalanan ke Ampang, sebuah kampung yang besar dan juga mapan. Di salah satu ujungnya terdapat teluk. (di sini panjang lebar Zollinger menggambarkan situasi perjalanan menuju Empang dengan gaya penulisan post behavioralist dengan pendekatan etnografi, sangat detail menceritakan situasi yang membuat keadaan saat itu seakan akan hadir dengan utuh di hadapan pembaca. Seperti gaya penulisan Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi, saya lewatkan agar tidak panjang).

Di Ampang tinggal semacam raja muda atau Dea yang disebut Kroya. Ampang masuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Sumbawa. Kehidupan masyarakat di Ampang sangat tertib, dengan unggah-ungguh yang tinggi mempertahankan adat. Berbeda dengan di Kowangko, kampong terakhir di barat wilayah kekuasaan Dompu. Orang-orang di Ampang melayaniku dengan sangat baik. Setelah berjumpa dengan Dea Kroya, mendapatkan berbagai informasi yang aku butuhkan, maka sebelum fajar aku naik kuda melanjutkan perjalanan ke Plampang.

Hampir sama seperti di Ampang, Plampang juga sama seperti Ampang. Sebuah kampong yang ramai dengan struktur pemerintahan lokal yang sudah sangat tertib. (Di sinipun Zollinger mengisahkan detail perjalanannya dari Empang sampai Plampang, dengan penggambaran alam yang sudah sangat rusak akibat letusan Gunung Tambora 32 tahun sebelumnya. Saya lewatkan). Kepala Plampang disebut Dea Ngampo. Dea Ngampo tampak jauh lebih terbuka dan mudah diakses dibanding Dea Kroya. Birokrasi terlalu panjang di belakang Dea Kroya, dan tak mudah mendapat banyak informasi darinya. Sementara Dea Ngampo tidak terlalu mempertontonkan kewibawaan seperti Dea Kroya. Dari Dea Ngampo aku mendapatkan lebih banyak informasi tentang situasi alam dan keadaan masyarakat.

Keesokan harinya aku melanjutkan perjalanan ke Lopok. Situasi perjalan ke Lopok lebih menyedihkan dari kisah perjalananku sehari sebelumnya. Di kaki Jaran Pusang yang merupakan wilayah perbukitan, di sepanjang mata memandang, hutan tandus hitam akibat terbakar. Dampak letusan Tambora betapa besarnya di sepanjang jalan. Gunung yang sebelumnya saat aku ke Negara Sanggar, aku berhasil mendakinya dan menjadi orang pertama yang mencapai puncak. Jaran Pusang penuh dengan pepohonan kuning dan menghitam, tandus dan kering. Di sepanjang perjalanan kami menemukan banyak bangkai kuda, kerbau dan babi hutan, mungkin karena kelaparan dan haus. Kerbau, terengah-engah, berkumpul di bawah pohon asam yang bertebaran di sana sini untuk mencari teduh. Alam yang benar-benar seperti habis terbakar.

Sesampai di Lopok, ini desa begitu menyedihkan. Dan aku sudah mendapat catatan dari berbagai informasi yang aku kumpulkan sebelumnya. Warganya sangat tidak ramah dengan pendatang. Suasana hening dan tegang, tak ada yang berkenan membuka pintu. Orang-orang tak bersahabat, bersembunyi di dalam rumah. Hanya tampak sedikit mengintip dari atas rumah kayu di balik jendela. Seperti neraka aku berada di sini. Malam itu seorang pria pangkat bawah (Poergawa Sumbawa) datang membantuku. Dan warga Lopokpun tak mempermasalahkan aku menginap di tempatnya.

Pagi harinya, saat ingin berangkat ke Sumbawa, tidak ada satupun kuli yang bisa kutemukan untuk membantuku membawa barang. Orang-orang masih terus mengurung diri dalam rumah, sementara sebagian yang lain dengan tergesa berjalan menuju lapangan. Aku hanya dibantu oleh Poergawa, saat itu pukul 7 pagi. Ternyata hari itu sedang terjadi pemberontakan rakyat Lopok. Aku diberitahu bahwa orang-orang tersebut adalah pengikut setia Dea Sahema, mantan perdana menteri (Dea Ranga) yang dipecat Sultan. Mereka tampak sedang berdebat menyusun kekuatan. Entah akan melakukan penyerangan atau apa, aku tak mendekat. Dari informasi, mereka sedang menolak perintah Sultan.

Di situ ada dua kepala kampung. Satu yang pro Sultan dan satu pengikut Dea Sahema. Namun tak satupun dari keduanya yang berkenan membantu perjalananku. Satu orang berkata bahwa tidak pernah ada perintah dari Sultan untuk mendampingiku ke Sumbawa. Desa itu memang sudah terkenal sering membangkang. Bahkan sudah pernah didenda tiga kali sebelumnya. Padahal sejak tiga hari sebelumnya mereka sudah tahu rencana kedatanganku. Namun mereka ternyata tidak menyiapkan apapun untukku. Saat aku kembali ke rumah penduduk, orang-orang bahkan tergesa gesa meninggalkan rumah yang setengah kosong, lalu meletakkan beberapa tikar dan bantal di lantai. Aku sangat tidak nyaman di sini, pengap dan bau. Mereka bahkan menolak memberikan aku makan. Padahal aku hanya meminta sebutir kelapa karena kehausan. Dan aku telah sampaikan ke mereka bahwa aku akan bayar tidak hanya kelapanya, tapi juga aku kasih upah. Ada dua kepala kampung di situ, tapi keduanya ternyata tidak ada yang diakui oleh Sultan.

Aku pun berjalan menuju Sumbawa. Perjalanan yang terasa jauh lebih jauh dari seluruh perjalananku. Dengan beberapa barang yang harus aku pikul sendiri, hanya ditemani oleh Poergawa. Sampailah aku di ibu kota Sumbawa pada tanggal 21 pagi. Di Sumbawa sebuah rumah telah disiapkan untukku, tetapi tidak ada seorang pun yang datang menyambutku. Jangankan Sultan dan atau perwakilan pejabat kesultanan, bahkan pegawai terendahpun tak ada yang datang menyambut. Padahal ketika aku sampai di Bima, aku disambut dengan begitu meriah, dengan tarian dan letusan 21 meriam sebagai penghargaan atas tamu kehormatan yang membawa surat rekomendasi dari Gubernur Jenderal di Batavia dan Makasar. Selama di Bima seluruh perjalananku didampingi. Demikian dengan ketika aku di Dompu, tidak hanya penyambutan bahkan dalam banyak ekspedisiku ditemani langsung oleh Sultan yang meski sudah tua dengan kemampuan Bahasa Melayu yang terbatas. Harta harta kesultanan ditunjukkan olehnya kepadaku. Di Sanggar juga demikian. Di Bima, Dompu Sanggar aku mendapat perlakuan bak seorang pejabat tinggi kerajaan Belanda, karena memang aku membawa surat diplomatic khusus untuk mendapatkan pendampingan protokoler dari Kerajaan Belanda.

Namun di Sumbawa aku mendapatkan perlakuan yang sangat berbeda, mulai dari Lopok tak ada yang mendampingiku menempuh jalan berat ke Ibu Kota Sumbawa. Di tambah lagi ternyata di Sumbawa jangankan kalungan bunga, bahkan tak ada orang yang menyapaku untuk sekedar menyampaikan salam penerimaan. Aku harus menemui Controleur Belanda untuk mendapatkan info di mana aku akan tinggal. Perlakuan ini adalah penghinaan yang besar bagi orang Eropa yang membawa surat diplomatic. Aku tinggal di sini sampai tanggal 26, berkeliling dan melintasi tiap penjuru juran, dari Lawang Seketeng sampai Nijang. Tanah berbukit, lembah, sungai, pantai semua aku telusuri. Cukup mengesankan karena Sumbawa ternyata sangat bersih. Hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai ke pantai. Pantai yang sangat indah.

Aku mulai menuliskan beberapa diary tentang keadaan alam di dalam kota. Beberapa jenis tumbuhan juga aku temukan untuk aku laporkan agar bisa dikirimkan ke kebun Buitenzory di Jawa. Tanggal 22 Controleur kembali bersurat ke Sultan mengingatkan terkait keberadaanku di Sumbawa, dan memperingatkan Sultan untuk pendampingan sesuai permintaan kerajaan Belanda. Tapi Sultan tetap sama. Dan ternyata tampak Controleur lebih menyedihkan di sini. Tak memiliki wibawa sebagai orang Eropa di hadapan kesultanan. Dia hanya berjalan kaki. Itulah mengapa aku segera menyusul dan ikut menemui Sultan di ruang kerjanya.

Kesempatan ini aku ambil dengan penuh untuk menyampaikan segala perlakuan terhadapku. Jangankan pendampingan, bahkan bahan makanan aku susah mendapatkannya. Namun tanpa rasa bersalah, Sultan berbisik ke stafnya untuk disampaikan singkat kepadaku bahwa itu haknya dia. Dikatakan, Sultan tak bisa berbahasa Belanda dan Melayu. Dia tidak mau langsung berbicara kepadaku, tapi melalui perantara. Panjang lebar aku menjelaskan ternyata hanya dijawab singkat dengan tanpa beban. Sultan adalah seorang pria bertubuh pendek dengan umur sekitar 30 tahun. Tanpa afirmasi dan perintah darinya tentu aku akan susah menyelesaikan tugasku di sini.

Sultan sangat dipengaruhi oleh Dea Ranga (Dea Banggae). Dua orang ini tampak sangat tamak dan sombong. Mereka ingin menunjukkan kewibawaanya lebih di atas orang Eropa. Mereka berdua banyak menarik pajak dari para pedagang yang datang dari luar Sumbawa. Pahit, banyak orang yang mengadu ke aku terkait hal ini, namun aku bisa apa.

Pada tanggal 23 aku diundang makan malam oleh Sultan. Utusannya berkata bahwa aku harus membawa makanan sendiri. Karena Sultan ingin makan bersama ala Eropa. Dia memintaku membawa wine. Aku terima saja hal itu demi kesenangan Sultan, karena aku butuh perintah dia untuk memperlancar pekerjaanku di sini. Meski dalam hati aku tak terima, bagaimana diundang makan malam, namun makanan harus bawa sendiri. Sesampai di hadapan Sultan aku telah duduk dengan meletakkan botol anggur. Aku diminta untuk membuka botol dan menuangkan ke cangkirku. Dan yang mengejutkan ternyata aku melihat ada dua orang di belakang Sultan sedang memegang botol dan cangkir. Satu botol anggur Rhine dan satu lagi anggur merah.

Sultan mengambil botol itu dan membukanya sendiri lalu menuangkan ke cangkirnya. Lalu cangkirnya diangkat sembari memberikan aku bahasa isyarat untuk juga mengangkat cangkir. Sultan hanya mencium cangkirnya namun cangkirku harus habis aku minum. Begitu seterusnya, jamuan makan malam tanpa kata. Ia terus memberi isyarat mengangkat cangkir dan kembali dia hanya mencium cangkir sementara aku harus menenggak habis. Hingga habis sebotol anggur yang aku punya, lalu Sultan memberikan botol anggur di hadapannya yang memang tidak dia cicip sedikitpun. Aku ikuti permainannya. Aku mau lihat sejauh apa ia hendak bermain.

Hingga habis botol anggur keduaku, dan aku pun meminta botol ketiga yang tersisa di hadapan Sultan. Sultan tiba tiba mendongak keheranan. Melalui stafnya dia bertanya “apakah aku mampu menghabiskan botol ketiga?”. Ada kesempatan percakapan mulai dibuka aku pun menjawab. “seberapa anggur yang tuan Sultan masih miliki, aku masih sanggup”. Tampak gesture Sultan yang menurunkan sedikit wibawanya dari yang sebelumnya duduk tegap membusung menjadi lebih santai. Aku lihat itu sebagai penanda dia mulai bersahabat menerimaku. Aku pun terus membuka pertanyaan karena ini kesempatan bagiku dalam menghadapi orang yang menganggap orang lain terlebih tamunya tak relevan di hadapannya. Aku berkata dengan mengutip sebuah syair berbahasa Jerman:

“Ueber diese antwort des kandidaten Jobes,
Geshah ein allgemeines schulten des kofes”

Bersambung,,,,

(masih panjang dan menarik. Kita bisa melihat bagaimana watak orang Sumbawa hingga hari ini yang nampak berakar sejak dahulu, tampak dari sikap Sultan Amrullah yang menjabat kala itu. Orang Sumbawa susah untuk bisa patuh dan hormat secara irasional ke orang lain, tidak karena mereka memiliki jabatan tinggi atau karena mereka orang Eropa, orang Sumbawa kerap berkata “sebage apa nyenan”, prestasipun susah begitu saja mendapat tempat di hati orang Sumbawa. Lakan dengan adalah hoby dan keisengan yang serius bagi orang Sumbawa. Di belakang akan kita bahas positif negatifnya dari sifat ini.

Catatan:
Tulisan ini berdasarkan terjemahan Laporan Perjalanan Heinreich Zollinger berjudul Verslag Van Eene Reis Naar Bima En Soembawa, En Naar Eenige Plaatsen Op Celebes , Saleijer En Floris, Gedurende, De Maanden Mei Tot December 1847. Laporan Zollinger ini 224 halaman dan telah menjadi rujukan dunia untuk mengetahui kehidupan di Pulau Sumbawa pasca letusan Gunung Tambora. (***)

Komentar

comments

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *