OPINI : Dinullah Rayes Penyair Sepanjang Masa Indonesia

Oleh : Ridhwan Karim

Dimas Arika Mihardja memberikan ulasan terhadap karya puisi bahwa apakah yang menarik dari puisi? Puisi selalu menawarkan daya tarik berupa tawaran dunia fantasi yang diolah berdasarkan diksi dan imajinasi. Setiap puisi sudah barang tentu terdapat diksi, yakni pilihan kata yang dilakukan oleh penyair. Penyair “setengah mati” mempertaruhkan diri dalam memilih kata-kata yang secara tepat dapat mengabadikan pengalaman dan perasaannya ke dalam teks puisi. Penyair selalu selektif dalam memilih kata. Penyair mengajak para pembacanya memasuki dunia fantasi lewat puisi-puisi yang digubahnya. Puisi menjadi menarik, selain ditentukan oleh penataan bahasa terbaik, dalam susunan indah, juga berkelindan makna pesan melalui simbol-simbol yang mewakili dunia batin penyairnya.

Ada banyak sastrawan sepuh nasional yang hilang dan tidak muncul lagi di kancah perpuisian tanah air. Beberapa di antaranya ada yang masih setia dan konsisten, salah satunya adalah Dinullah Rayes yang umurnya terus beranjak senja menginjak pundak undak tangga usia 80-an tahun masih produktif menulis. Kemampuannya menulis karya sastra didapatkan secara otodidak. Karyanya dimuat di sejumlah media internasional, nasional dan lokal. Mulai dari Dewan Sastra Malaysia, Bahana Brunei Darussalam, Horison, Media Indonesia, Abadi, Pelita, Suara Karya, Panji Masyarakat, Salemba, Tifa Sastra, Sinar Harapan, Kompas, Forum, Tribun, Republika, Bali Post, Nusa Tenggara, Sastra Puisi dan lain-lain

Saya mengenalnya dari tahun 2010 saat ia menjadi pemakalah bersama penyair KH. D. Zawawi Imron dalam acara Sastrawan Bicara dan Siswa Bertanya (SBSB). Namun suara hatinya telah lama saya kenal lewat karya puisinya berjudul Surat Warna Jingga Dusun Kelahiran yang saya bacakan di sebuah festival. Di akhir acara tersebut saya ingin berphoto dan meminta tanda tangannya. Tak berapa lama para penggemar sudah mengerubunginya. Di sela-sela banyaknya orang saya berusaha meminta tanda tangannya meski berphoto dengan sang idola gagal. Lantas kemudian saya meminta nomornya kepada seorang budayawan lokal. Setahun berlalu, barulah saya memberanikan diri mengirim pesan singkat padanya.

Tepat di awal Januari 2012 saya mengatur tata bahasa saya sebaik mungkin dan menyertakan puisi alit ciptaan saya. Ia pun membalas dengan puisi pula yang membuat saya terkesima dan takjub. Begini puisi balasannya; mengapa warna merah/selalu mendahului timbul-tenggelamnya matarahari//padahal kau dan aku/rindu berseminya/segala warna//hulu dan hilir cita rasa//kembalilah ke pelabuhan//disana Tuhan menuding yang datang/yang pergi/di tangan-Nya berkibar bendera//bulan-matahari.

Sehimpun kata-kata puitiknya itu membuat saya semakin gila dan menggemarinya. Pertengahan tahun 2012 tiba-tiba ia mencari dan mengunjungi rumah saya di desa Luk A, Kecamatan Rhee. Semakin terkejutnya, sang idola menghadiahi saya beberapa buku. Saya kembali terpana dengan petuah-petuahnya bahwa menulis puisi itu tidak perlu menggunakan diksi tinggi-tinggi yang terpenting ditulis secara jujur, rendah hati, dan mengandung nilai-nilai kebenaran. Misalnya bulan perak mengelus anak-anak rambut rerumputan. Saya dibuat tak berdaya oleh pilihan kata-kata yang disampaikannya. Sejak saat itu, saya intens dengannya dan intim mengikuti proses kepenyairannya. Lalu pertemuan singkat di kediaman saya itu ditutup dengan photo bersama. Impian sebelumnya yang sempat gagal akhirnya terwujud.

Dinullah Rayes sekarang menetap di Mojokerto bersama istrinya kerap kali pulang-pergi Jawa-Sumbawa. Musibah kebakaran rumahnya tahun 2007 yang membuat seluruh harta kekayaan paling berharga berupa ribuan buku hangus tidak tersisa menguap bersama abu. Buku-buku yang menjadi bagian hidup dan karya-karyanya yang dikumpulkan sejak 1950-an tidak meninggalkan jejak. Meski harta intelektualnya menguap dan tidak meninggalkan jejak akibat ganasnya si jago merah, ia tetap berkarya minimal satu karya dalam bentuk buku. Karena karya tulis yang terdokumentasi dengan baik, akan berusia lebih panjang dari penulisnya. Baginya dunia sastra adalah nafas kehidupan. Dari itu, sejak tahun 2006 sampai sekarang sudah menghasilkan 16 karya dari total 25 karya tunggal. Jika dijumlahkan dengan antologi, Dinullah sudah menghasilkan 72-an buah buku.

Jika dilacak, ditelusuri dan diamati proses kreatif kepenulisannya sudah dimulai dari tahun 1956. Saya membayangkan waktu itu, teramat susah menjangkau meja redaktur surat-surat kabar yang memiliki kolom sastra untuk menyiarkan karya puisi. Tidak seperti saat ini yang begitu mudah, bisa mengirim melalui jaringan internet. Sampai sekarang penyair Dinullah tidak menguasai media-media elektronik canggih. Ia masih menulis dengan tangan. Inilah yang membedakan Dinullah dengan banyaknya penyair yang bermunculan sekarang. Menurut penyair Aan Mansyur bahwa penyair-penyair sekarang tidak menempa dirinya, hampir tidak pernah lagi menulis tangan, selalu dimudahkan dengan komputer dan tidak terasah fragmentsif-nya.

Jika Taufik Rahzen menggelari sang penyair “puisi yang berjalan”, lantas saya mengesahkan “Dinullah Rayes adalah penyair sepanjang masa”. Hal ini sangat beralasan. Terdapat banyak penyair ternama seangkatannya yang kini menghilang dari percaturan kesusastraan. Sebut saja Sutardji Colzoum Bahri, sebagai presiden penyair seharusnya SCB banyak melahirkan karya puisi. Hanya buku O Amuk Kapak yang menandai kehebatannya. Atau Agus R. Sardjono, Diah Hadaning, Piek Ardijanto Soepriadi, Goenawan Mohamad, LK. Ara, Emha Ainun Najib, Gus Mus atau Taufiq Ismail. Dinullah bahkan setiap tahun ia terus produktif menerbitkan buku tunggal. Syahwat imaji-nya selalu liar. Atau mungkin ini salah satu caranya untuk mengobati hatinya atas musibah kebakaran rumahnya sepuluh tahun silam. Tidak hanya itu, keaktifannya memenuhi undangan-undangan forum kesusastraan di seantero negeri dan luar negeri tetap ia hadiri. Meski dalam keadaan terbatasnya finansial, ia berusaha untuk bertemu dan bersilaturrahim dengan para sahabatnya. Maka tak ayal, dia menjadi penyair kondang. Kedekatannya dengan sesama sastrawan mengikat pertaluan nasab. Menurut sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda (2008) bahwa dunia kepenyairan Indonesia banyak memiliki penyair yang sering menunjukkan pengorbanan dan dedikasi luar biasa pada sastra Indonesia. Di Sumbawa, NTB, misalnya, ada penyair senior Dinullah Rayes, yang sering menjual kuda dan kerbaunya untuk biaya kegiatan sastra dan mengikuti acara sastra di luar kota. Luar biasanya, meskipun rumahnya pernah terbakar, Dinullah masih saja dengan penuh semangat menghadiri acara-acara sastra di Jawa secara swadaya. Jika inti kepahlawanan adalah kerelaan berkorban untuk bangsanya, maka Dinullah Rayes adalah pahlawan sastra. Ia rela mengorbankan apa saja untuk ikut memajukan kesastraan bangsanya, tanpa peduli waktu, jarak, dan usia. Apalagi sekadar berkorban harta, mereka akan rela-rela saja.

Hampir seluruh kota-kota besar di pelosok negeri ia telah sambangi. Karena keaktifannya itu LK. Ara menyebutkan Dinullah adalah penyair pengembara. Dalam bentuk tubuh yang terbilang ramping ia bagai meliuk saja merambah belantara Indonesia mengunjungi kota demi kota. Sebentar nampak ia berada di Jogyakarta, untuk kemudian tak disangka-disangka untuk waktu tak berapa lama berselang dia bisa kita temui di Jakarta. Urusannya sederhana yakni pada umumnya berkaitan dengan pagelaran sastra atau pertemuan sastra. Saya mencermati Dinullah tidak hanya melakukan pengembaraan secara ragawi, tetapi juga secara nir-ragawi.
Dinullah telah mampu memberikan sidik jari atas karya-karyanya. Warna, kekhasan, karakter dan tipografi puisi-puisinya; muatan lokal, interpretasi alam, suasana batin dan pesan religius selalu mengendap-mengental dalam tulisannya. Puisi yang unggul bukan hanya puisi yang minta dibaca ulang terus-menerus, namun juga yang mengubah cara kita membaca dan menulis (Dewanto, 2011). Saya rasa karya Dinullah melalui puisinya telah mampu mengubah pola berfikir, cara memandangi sesuatu, dan sajak-sajaknya mengajak kita berkontemplasi. Bahkan melembutkan hati sekaligus mencerahkan. Dinullah menyajikan karya-karyanya dengan ungkapan sederhana dan bunga kata-katanya tidak memberatkan tangkainya. Hal ini senada dengan apa yang pernah ditulis oleh Almarhumm Korrie Layun Rampan di dalam buku, Puisi Indonesia Hari ini Sebuah Kritik terbitan tahun 1985, bahwa sama seperti D. Zawawi Imron, Dinullah Rayes menyajikan sajak-sajaknya dengan tema-tema kecil dengan suasana alam yang sepi. Bahasanya yang sahaja dan bentuk ucap yang lugas membuat ekspresi puisinya jujur dan polos. Sebagai penyair yang dewasa, puisi-puisinya memang sudah mengucapkan dirinya, merefleksikan perjalanan hidup, merekam pengalaman badaniah dan rohaniah secara jujur.

Lebih lanjut Korrie menyatakan hubungan alam dengan tradisi keagamaan yang merasuk secara imanensi di dalam lirik-lirik religius yang lentur dan peka menandai kuatnya iman percaya kepada Tuhan. Sebagai sarana ekspresi, sejak merekatkan ikatan manusia dengan alam dan kekuatan supranatural. Nuansa religiusitas tersebut pernah juga didedahkan oleh Jamal D. Rahman (pimpinan redaksi majalah sastra Horison) bahwa inilah kebersahajaan Dinullah Rayes, seorang tokoh dan seorang penyair yang gigih memperjuangkan nila-nilai kemanusiaan dalam karya-karyanya. Seorang penyair yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai religius dengan metafor-metafor alamnya yang khas. Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh H. Agus M. Jihad, Dinullah adalah sosok religius yang dalam puisi-puisinya sangat akrab dengan nilai-nilai Ilahiyah. Dinullah layaknya seorang “ulama” yang tidak pernah berhenti berdakwah.
Karya-karya Dinullah teramat tenang menyejukkan, tutur ucapnya yang manis-manis lembut, dan berpenampilan sederhana seperti pribadi penyairnya. Demikian juga Prof. Dimas Arika Mihardja mengungkapkan bahwa Dinullah Rayes menciptakan puisi yang secara sederhana menampilkan intensifikasi, korespondensi, dan musikalitas.

Kesederhanaan karyanya itu menyimpan banyak makna. Terasa ada kesantunan berbahasa, dan kematangan jiwa penyair sepuh ini dalam mengendalikan gejolak emosi.
Misi Dinullah tidak berhenti disitu. Ia membangun balai seni budaya Ringgi di kaki bukit kampung kelahirannya Kalabeso. Balai tersebut dijadikan sebagai tempat latihan seni tradisional dan non tradisional. Jika banyak tokoh daerah yang berkiprah di pusat kemudian mengundang mereka berkunjung ke NTB dan khususnya Sumbawa. Hal serupa juga yang dilakukan oleh Dinullah, sebagai penyair ia telah mengajak beberapa sastrawan besar Indonesia untuk membumikan sastra di pulau Sumbawa seperti Taufiq Ismail, almarhum Rendra, M. Marewo, Jamal D. Rahman, Agus S. Sarjono, KH. D. Zawawi Imron, dan Bambang Widiatmoko beserta istrinya Dr. Mujizah.
Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Salah satu sajaknya yang berjudul Mencari Mimpi diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia oleh ahli sastra asal Uni Soviet yaitu Prof. Dr. Victor Pogadaev. Hal ini menandai sepak terjang kepenyairan Dinullah telah sampai puncak. Tidak hanya penulis-penulis dalam negeri yang mengulas karyanya melainkan ahli dan kritikus sastra luar negeri. Atas dedikasinya tersebut melalui Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1996 Kementerian Agama RI memberikan kesempatan kepada Dinullah untuk menunaikan ibadah haji. Beberapa penghargaan juga pernah ia raih diantaranya tahun 2015 mendapat anugerah Bahasa dan Sastra dari Pusat Bahasa Provinsi NTB, hadiah seni dan lencana karya satya tingkat II dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Selain itu, mantan ketua Lembaga Adat Tana Samawa ini pernah diundang dalam wisuda gelar kehormatan dari American University of Hawai.

Dinullah telah menciptakan sejarah bahwa dari tanah Sumbawa telah lahir seorang penyair nasional yang tentunya menambah khazanah kesusastraan negeri ini. Karya-karyanya patut kita apresiasi dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas jasa Dinullah dibidang tersebut. Memang kita tidak bisa menyamakan profesi ini dengan pekerjaan lain seperti menjadi pejabat publik. Secara tidak sadar, Dinullah telah memperkaya referensi keilmuan negeri ini bahkan sastra dunia.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah sajak karyanya yang termaktub dalam buku kumpulan puisinya Petir Cinta Maha Cahaya yang terbit tahun 2016.

Cinta dan Cinta

Cintamu padaku dan cintaku padamu terpeta
Ketika hujan turun lebat
Airnya mengalir, menyelusup pori-pori tanah
Akar-akar rerumputan, pepohonan gegas
Mereguk air langit-Mu
Seputar lidah-lidah daun bunga-bungapun
Mengirim senyum harum mewangi

Cintaku padamu dan cintamu padaku tertata rapi
Apabila bulan dan bintang berpacaran
Di latar cuaca musim semi
Sinar dan cahaya luluh
Lalu mengantar kilat cahaya
Badai gelap jelma damai gemerlap

Cinta kita tak mengenal musim
Badan batin
Membajak jutaan sajak
Sebuah balada bunga dan bulan
Berkisah kasih antara yang mencintai
Dan yang dicintai
Adalah kau dan aku selalu bertemu
Di pucuk rindu.

Komentar

comments

Facebooktwitterlinkedinrssyoutube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *