Keluarkan Siswa, Kepala SMAN 1 Sumbawa Disorot

Mataram, PSnews – Diduga berprilaku tidak adil serta menimbulkan kesan menelantarkan siswanya, pihak SMA Negeri 1 Sumbawa mendapat sorotan dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pasalnya, pihak sekolah setempat dikabarkan mengeluarkan GHR – siswa 16 tahun dengan alasan melanggar tata tertib sekolah. Namun dikeluarkannya siswa tersebut dinilai janggal oleh LPA lantaran tanpa ada upaya pembinaan terlebih dahulu dan melakukan komunikasi dengan orang tua murid untuk berkolaborasi.

Kepada media ini, Koordinator Divisi Hukum dan Advokasi LPA NTB – Joko Jumadi mengatakan bahwa seharusnya pihak sekolah dalam menyelesaikan masalah harus lebih bijak bukan mencari kesalahan sehingga menimbulkan kesan arogan. Menurut Joko, sekolah adalah lembaga pendidikan yang esensinya mendidik anak untuk menjadi manusia yang berkualitas dan bermartabat.
“Ketika ada anak yang bermasalah, maka sudah menjadi kewajiban sekolah untuk membina dan mendidik mereka. Karena itulah tugas utama dari sekolah bukan malah lepas tangan, seorang guru tidak sekedar mengajar tapi juga mendidik. Maka anak yang bermasalah adalah ladang amal yang luar biasa bagi seorang guru,” ujarnya Jum’at (13/01/17).
Mengeluarkan siswa karena melanggar tata tertib sekolah tanpa ada upaya pembinaan terlebih dahulu, lanjut Joko, dianggap sangat tidak sesuai, bahkan melanggar konstitusi dan hak-hak anak. Bahkan di NTB sudah ada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2015 yang bisa menjerat seorang pejabat publik mengeluarkan keputusan dapat menyebabkan tidak terpenuhinya hak anak.
“Pendidikan adalah hak anak yang dijamin oleh Undang-Undang (UU). Pemerintah dan kita semua sedang gencar-gencarnya mengusahakan supaya semua anak sekolah, tidak ada anak yang putus sekolah. Kok ini malah lembaga pendidikan yang menghendaki anak putus sekolah. Kan sangat ironis, sekolah boleh saja mengeluarkan anak dari sekolahnya namun mereka harus mencarikan dulu sekolah yang bisa menerima anak tersebut tidak asal mengeluarkan,” geramnya.Adapun solusinya, lanjut Joko, yakni sekolah menerima kembali anak tersebut atau mencarikan sekolah baru bagi anak bersangkutan, namun itu adalah alternatif terakhir. Kalaupun sekolah tetap saja mengeluarkan anak bersangkutan, maka Kepala Sekolah (Kepsek) nya dinyatakan telah melanggar Perda, dan itu ada sanksi administratif dan pidana.
“Iya donk, sudah pasti salah karena melanggar. Kepala sekolah malah bisa kena sanksi tidak hanya secara administratif, tapi juga pidana,” tuturnya sembari, “LPA saat ini sedang berupaya mengadvokasi pihak sekolah agar patuh pada peraturan perundangan yang berlaku. Namun, apabila sekolah masih ngotot maka terpaksa jalur hukum administratif dan hukum pidana akan kami tempuh,” tambah Joko.

Jika sekolah tersebut benar mengeluarkan GHR tanpa mencarikan alternatif kelangsungan pendidikan anak dan menyalahi aturan lebih jauh ditegaskan Joko, LPA menyatakan dengan keras akan membidik SMAN 1 Sumbawa diusut secara tuntas sekalipun harus menempuh jalur hukum. “Kami tidak segan mengambil langkah hukum baik administratif maupun jalur pidana. Karena telah memenuhi unsur pelanggaran Perda nomor 8 tahun 2015 dan masih banyak lagi peraturan lain yang akan kita gunakan,” demikian dikatakan Joko Jumadi dengan tegas menutup wawancara ini.

Sementara itu, di tempat terpisah Burhanuddin orang tua GHR-mengaku prihatin akan kondisi anaknya yang kini tidak lagi bersemangat dalam kesehariannya, terlebih tak dapat mengeyam pendidikan di bangku sekolah seperti teman seusianya. Bahkan kekecewaan teramat dalam juga terhdap sikap serta tindakan pihak sekolah, dimana seharusnya sekolah atau guru melindungi, mendidik, membimbing siswanya agar menjadi pribadi yang lebih baik. “Sekolahkan rumah kedua bagi anak-anak kita dan guru adalah orang tua kedua yang harus melindungi, membimbing, mendidik bukan malah menekan mental, mencari kesalahan dan pihak sekolah juga menimbulkan terkesan menelantarkan anak kami,” kata suami dari Mike Ema ini lesuh.

Dalam hal ini, Bur – panggilannya berharap pihak LPA dapat membantu sekaligus memberikan solusi terbaik demi kelanjutan anaknya dapat mengenyam pendidikan. “Semoga semuanya kembali baik dan masalah ini segera selesai dengan solusi terbaik. Saya hanya ingin bagaimana anak saya bisa bersekolah lagi dan menemukan masa depannya,” harapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, anak yang berusia 16 Tahun itu, sering uring-uringan di rumah dan tak tahu harus berbuat apa. Bahkan teman sekolah/sekelasnya ikut sedih lantaran tindakan pihak sekolah yang dinilai sangat berlebihan. Hal itu terbukti, dengan seringkali teman-teman sekolahnya mengunjungi GHR ke rumahnya.

Sementara Kepala SMAN 1 Sumbawa belum berhasil dihubungi. (PSbo)

Komentar

comments

Spread the love

3 thoughts on “Keluarkan Siswa, Kepala SMAN 1 Sumbawa Disorot

  • Jan 15, 2017 at 11:09 am
    Permalink

    Kok langsung di keluarkan ? Tanpa ada penjelasan apa yg telah di lakukan siswa tersebut ..
    Tolong di perjelas kembali apa sebab nya siswa tersbut di keluarkan dr skolah ??

    Reply
  • Jan 16, 2017 at 7:00 am
    Permalink

    Semua kebijakan yang dikeluarkan pasti ada asal muasalnya, tidak mungkin hanya karena melanggar tata tertib dikeluarkan, pasti ada faktor lain yang dengan berat hati mengeluarkan siswa tersebut.
    Jangan melihat satu sisi saja, yang lebih paham mengenai siswa di sekolah adalah semua warga sekolah. Jangan memojokkan sekolah juga. Keputusan yang diambil itu juga melalui rapat, bukan asal ambil.

    Reply
  • Jan 16, 2017 at 11:27 pm
    Permalink

    Wajarlah dikeluarkan, orang anaknya sudah melanggar krna membawa barang yg dilarang. Sy alumni smanika malu, kok bisa2nya ada siswa smanika yg kayak gitu . Harusnya ortunya juga malu kalau kasus anaknya sprti itu. Jangan hanya menyalahkan pihak sekolah aja. Yg bikin berita, please jangan setengah2. Seolah olah sekolahnya yg salah. Dan lebih mendukung siswa yg salah tersebut.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *