Belajar dari Keberhasilan NTB Memenangi Kompetisi Pariwisata Halal Nasional

Oleh : Imron Fhatoni
(Ketua IKPPM Empang – Mataram)

Tepatnya pada hari Sabtu, 10 September 2016 lalu. Kala itu di ruang 3 Hotel Santika Mataram, ada sekumpulan orang dengan label Blogger Lombok Sumbawa tengah berkumpul pada kegiatan Workshop dan Jumpa Blogger menjelang Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) 2016. Mereka datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, namun telah diikat oleh visi yang sama, yakni bagaimana memaksimalkan peran teknologi informasi untuk mempromosikan Lombok Sumbawa agar menjadi kiblat wisata dunia. Di ranah maya, mereka telah bersepakat untuk lebih produktif dalam mereproduksi konten dan segala informasi untuk kemajuan pariwisata NTB.

Beberapa pemateri yang ikut hadir termasuk Yusran Darmawan yang juga adalah seorang Penulis, dan Siti Chotijah atau akrab disapa Mbak jhe, seorang Dosen Komunikasi di Universitas Mataram, tak lupa untuk berbagi pengalaman dalam rangkaian kegiatan tersebut. Mereka tak saja membeberkan tentang teknik-teknik dasar dalam menulis, tapi juga memberi inspirasi kepada para blogger tentang bagaimana seharusnya mengelola konten yang baik, agar apa yang mereka bagikan senantiasa diilhami banyak orang.

 

Dewasa ini, disaat teknologi telah berkembang sedemikian pesat dan akses informasi begitu mudah, disitulah kita harus mengamini bahwa apa yang telah diramalkan oleh Alvin Toffler, seorang peramal masa depan bukanlah sekedar ramalan kosong belaka. Beliau pernah membagi gelombang peradaban manusia atas tiga fase, pertama yaitu zaman peradaban pertanian, selanjutnya zaman peradaban industri dan terakhir zaman peradaban informasi. Inilah zaman dimana dunia teknologi informasi akan menjadi atmosfer demokratis yang akan merubah semua tatanan. Dunia informasi telah mengubah peta sosial, peta bisnis, dan juga peta intelektualitas dunia. Melalui jendela kecil di layar ponsel dan laptop, orang-orang dengan mudah melempar ide ke ruang maya. Ide itu lalu beresonansi dengan semesta serta orang-orang yang berpikiran sama dengan mereka.

Pertemuan blogger Lombok Sumbawa ini diinisiasi lansung oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Rupanya dalam penyambutan bulan budaya kali ini, pemerintah kita telah mempersiapkan segalanya. Mereka telah memahami bahwa kemajuan teknologi informasi harus dimanfaatkan secara maksimal, tak terkecuali untuk event pariwisata. Mereka bisa membaca trend yang tengah berkembang, lalu dengan berani membuka ruang bagi para blogger muda untuk terlibat dalam satu agenda besar. Mereka sangat menyadari bahwasanya pariwisata hanya akan diketahui publik jika terus menerus dikicaukan oleh para netizen dan disebarkan secara massif di ranah media sosial. Mereka sama sekali tidak lupa dengan pepatah yang mengatakan bahwa “siapa yang menguasai informasi maka dia menguasai dunia”. Sesungguhnya mereka tengah berusaha berafiliasi dengan zaman.

Benar saja, apa yang telah dilakukan oleh pemerintah NTB telah membuahkan hasil, jargon pariwisata halal yang digaungkan mampu memenangi Kompetisi Pariwisata Halal Nasional (KPHN) 2016 ini. Dalam kompetisi itu NTB mampu menyabet beberapa kategori, diantaranya adalah: Website travel ramah wisatawan terbaik, destinasi honeymoon terbaik sembalun, resort pantai ramah wisatawan terbaik (novotel), dan hindangan khas asli daerah Taliwang. Kini NTB tengah bersiap ke tahapan selanjutnya, yaitu untuk kompetisi World Halal Taorism Awards 2016. Bagaimanapun NTB telah membuktikan bahwa pengembangan pariwisata halal yang dilakukan telah menapaki jalur yang benar, dan tentunya pencapaian ini tak terlepas dari dukungan para blogger yang tanpa henti berkicau mengenai keindahan parawisata NTB pada tataran media.

Pada dasarnya hal serupa juga pernah dilakukan oleh orang nomer satu di Amerika saat ini. Hal ini dibuktikan dengan kisah tentang Chris Hughes. Dalam usia 23 tahun, ia bertemu Barrack Obama, yang saat itu masih menjadi senator. Obama meminta Chris untuk merancang kampanye yang berbasis dunia maya. Chris menerimanya sebagai tantangan. Ia lalu membangun satu web yang diniatkan sebagai kanal informasi, lalu menyebarkannya ke mana-mana. Ia juga mengorganisir kaum muda, mengelola manajemen pencitraan di dunia maya, menyebarkan berbagai pesan baik yang dimiliki Obama. Tak disangka, kerja keras itu berbuah kesuksesan, saat Obama terpilih menjadi presiden. Membayangkan apa yang telah dilakukan oleh Chris seharusnya mampu memotivasi kita saat ini, Chris telah membantu kita dalam memahami peran teknologi informasi yang sebenarnya. Memanfaatkan media dalam melakukan promosi pariwisata adalah langkah yang tepat, lihatlah disekeliling kita sekarang, di mana-mana setiap orang telah menggunakan smartphone. Tidakkah terbesit dalam pikiran kita bahwa ujung jemari mereka akan menjadi alat kampanye yang efektif hanya dengan cara meng-klik.

Di abad yang serba modern ini, media informasi dan komunikasi tidak hanya efektif untuk melakukan promosi pariwisata, dan kampanye politik semata. Tetapi juga telah menjelma menjadi satu metode gerakan sosial yang mampu menghembuskan isu, menjaring dan menggerakkan massa, hingga menghasilkan suatu perubahan. Di Serbia, jatuhnya rezim Slobodan Milosevic dimulai dari aksi mengutak-atik program photoshop, revolusi payung di Tiongkok, yang juga merupakan aksi penolakan masyarakat terhadap penghapusan pemilu langsung di Hongkong itu dimotori oleh mahasiswa, dengan memanfaatkan aplikasi FireChat mereka menghimpun massa dan terus-menerus menyampaikan informasi kepada para demonstran. Revolusi di dunia Arab bahkan dimulai dari aksi meneruskan pesan di twitter. Mari pula mengamati apa yang terjadi di Amerika, sebuah aksi untuk memprotes kesenjangan sosial dan ekonomi di dunia pada 2011 diawali dengan pendirian sebuah situs http://occupywallst.org yang mengajak masyarakat untuk menduduki Wall Street, sebuah jalan tempat berbagai kantor institusi keuangan di Amerika Serikat. Melalui facebook dan youtube, gerakan tersebut disebarluaskan dan mendapat simpati yang begitu banyak.

Meski dalam beberapa kasus kerap ditemukan penulisan artikel blog yang tidak sesuai dengan standarisasi menulis dan kerap memusingkan pembacanya, namun para blogger yang notabenenya adalah kaum digital ini, tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Kita harus lebih jujur mengakui bahwa blogger memiliki peranan yang sangat penting di era seperti sekarang ini. Mereka telah bertransformasi bak pengendali informasi pada abad digital, kekuatan mereka kian tak terbendung, suara-suara yang mereka keluarkan begitu mudah diilhami oleh banyak orang dengan hanya bermodalkan “posting”, mereka bahkan memiliki koneksi yang tak terbatas. Untuk orang-orang seperti mereka, pemerintah harus berani memberi ruang yang lebih banyak agar mereka dapat berimprovisasi, memberi peluang untuk memaksimalkan apa yang mereka miliki lalu disebarkan kepada publik. Begitu juga Kolaborasi antara pemerintah dan blogger, komunikasi keduanya harus segera dibangun dibanyak tempat lain di Indonesia. Jika dengan satu peluru dapat menembus satu kepala, maka dengan satu konten positif bisa menembus ribuan kepala. Blogger adalah setitik embun dan akan selalu membasahi dahaga mereka yang haus akan informasi. (***)

Komentar

comments

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *