Lulusan SD Miliki 30 Bus

Tinggi rendahnya latar belakang pendidikan ternyata tidak menentukan nasib seseorang. Sukses pada umumnya ditentukan oleh kegigihan dalam berusaha serta kejelian dalam memanfaatkan peluang dan kesempatan dari sumber daya di sekelilingnya. Seperti halnya yang dilakukan oleh H Abdul Gani ini. ~~~~~~

H Abdul Gani saat ditemui wartawan di rumahnyaMemulai karir dari bawah sebagai petani yang kehidupannya serba terbatas H Abdul Gani, pria kelahiran Sekongkang Kabupaten Sumbawa Barat tahun 1963 ini sekarang bermetamorfosa menjadi pengusaha sukses. Lelaki tinggi besar yang ramah ini mengeluti usaha jasa transportasi yang disegani oleh mitra kerja PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT).

Karirnya sebagai pengusaha angkutan bermula ketika PTNNT melakukan kegiatan eksplorasi di Batu Hijau tahun 1993 hingga 1994. Kondisi Kecamatan Sekongkang ketika itu masih terbilang terbelakang dibanding kecamatan lain. Masyarakat hanya mengandalkan kuda sebagai satu-satunya alat transportasi menuju ke desa-desa lain maupun ke Taliwang sebagai pusat perekonomian masyarakat. Kondisi kala itu sangat menyulitkan masyarakat setempat apalagi jika ada warga yang menderita sakit parah dan harus dirawat secara intensif, tentu sangat menyulitkan. Di tahun yang sama, Gani telah dikaruniai seorang anak laki-laki buah pernikahannya dengan istri tercinta Nuraini pada tahun 1988. Peran isterinya tersebut sangat mendukung luar biasa baik tenaga maupun pikiran.

Situasi mulai berubah ketika PTNNT mulai berproduksi di tahun 2.000. Sejumlah ruas jalan mulai dibenahi dengan sertu (pasir batu), diikuti dengan adanya sarana transportasi yang sudah menembus Kecamatan Sekongkang.

Bantuan demi bantuan diguyurkan oleh manajemen PTNNT untuk masyarakat setempat. Di situlah Gani mulai tertarik untuk mencari peluang kerja guna menggalang perubahan ekonomi keluarganya. Ketika itu ia masih bergelut di sektor pertanian, setelah melihat rekan-rekannya cocok bekerja di PTNNT, Gani yang saat itu menjabat sebagai Ketua LKMD (sekarang BPD) sempat ditawari pekerjaan di PTNNT. Tapi kala itu Gani mengaku masih awam mengenai pertambangan dan menolak tawaran pekerjaan tersebut.

Namun peluang pertama yang ia terima tatkala diberikan kepercayaan untuk memasukan cathering untuk karyawan PTNNT menggunakan nama perusahaan CV Gunung Kijang. Selain itu, ia kemudian mendirikan CV Gita Utama Mandiri (GUM) selama 3 tahun. Tapi selama 3 tahun itu belum ada perkembangan untuk mendapatkan proyek yang lebih besar.

Bus antar jemput karyawan & visitor PTNNT
Bus antar jemput karyawan & visitor PTNNT

Akhirnya Gani memasukkan company profile ke PTNNT. Oleh PTNNT, Gani  diberikan pekerjaan sebagai supplier tenaga kerja. Sedangkan usaha catheringnya yang lebih awal digeluti juga masih tetap berjalan. Akhirnya tahun 2008 PTNNT memintanya untuk meningkatkan kapasitas perusahaannya menjadi PT (perusahaaan terbatas). Ia pun mengurus perijinan dari CV. GUM menjadi PT GUM yang eksis sebagai perusahaan jasa transportasi yang beroperasi di wilayah internal tambang PTNNT.

Dalam menyerap tenaga kerja, PT GUM tidak membatasi dengan kawajiaban ijazah. Bahkan yang tidak pernah sekolah pun diberi kesempatan untuk menjadi karyawan.

“Setelah sekian tahun, kita diuji untuk menangani transportasi Newmont. Saat itu bus-bus yang digunakan berasal dari jalanan, dicoba apakah mampu atau tidak. Kita diberikan masing-masing 5 unit untuk melayani transportasi karyawan PTNNT. Ternyata bisa dan PTNNT kembali memberikan kepercayaan untuk meningkatkan kapasitas bus menjadi bus AC. Waktu itu tidak ada bus AC yang nambang selain di luar daerah, tapi kita mampu untuk menyuplainya meski belum maksimal,” papar Abdul Gani.

Sekarang armada bus PT GUM sudah mencapai lebih dari 30 unit sejak tahun 2009. Meski begitu, ketika terjadi kahar 3 bulan, perusahaanya nyaris gulung tikar lantaran tidak ada aktifitas perusahaan yang berimbas terhadap PT GUM dan karyawannya. PTNNT hanya memberikan uang tunggu sebagai bentuk jaminan kerjasama dengan PT GUM.

Meski kondisi ekonominya di atas rata-rata warga sekitar, pria yang rendah hati ini mengaku dirinya hanya menumpang lewat saja.  Semua rejeki dan penggajian bagi karyawannya sebenarnya membantu masyarakat yang direkrut dari bawah dan dengan SDM yang rendah juga.

Rumah H Abdul Gani di Sekongkang
Rumah H Abdul Gani di Sekongkang

“Saya hanya ingin anak saya berhasil. Saya tidak berpikir untuk menjadi anggota DPR karena SDM saya nol. Saya bicara dengan hati nurani sesuai fakta yang saya alami. Yang penting kita bisa berbagi kepada sesama masyarakat di sini. Kalau ada apa-apa, saya terus berkomunikasi dengan Newmont. Bila tidak dibimbing Newmont, saya tidak akan bisa. Kalau orangnya sesuai tidak akan ditolak Newmont khusus sub kontraktor. Tapi orang itu harus benar-benar jujur, jangan neko-neko di belakang,” ungkap Gani.

Hingga saat ini, Gani mempekerjakan sebanyak 400 karyawan dengan gaji sampai Rp 5 juta. Mereka berasal dari Maluk, Jereweh dan Sekongkang.

Ada yang menarik selain kisah karir Gani, sebuah rumah panggung berwarna biru berdiri kokoh di ujung tenggara sudut pekarangan rumah Gani. Rumah panggung mungil tersebut merupakan saksi sejarah perjalanan hidup Gani ketika masih di bawah roda kehidupan di tahun 1988. Konon rumah itu sudah diminati banyak orang dan menawarinya untuk dibayar. Sayangnya Gani enggan melepas rumah yang menjadi pelipur laranya itu.

“Kalau saya jual rumah itu, tidak bisa saya ingat sejarah orang tua saya berikut kehidupan masa lalu. Kalau saya ceritakan saya nangis,” papar Gani dengan mata berkaca-kaca.

Betapa tidak, rumah panggung yang kini menjadi tempat beristirahat para karyawannya itu beberapa bagiannya merupakan hasil kerja keras Gani ketika masih kerja di proyek eksplorasi PTNNT.

Meski sudah menjadi pengusaha sukses di bidang jasa transportasi, Gani tetap tidak bisa meninggalkan statusnya sebagai petani. Dengan hidupnya yang serba ada saat ini, Gani masih ingat jelas ketika dulu penghasilan sebagai petani hanya sekali setahun. Karena mengandalkan sawah tadah hujan. Ada penghasilan tapi pembeli tidak ada. Karena perhitungan pembeli dengan jarak tempuh yang jauh dari Taliwang. Bahkan terkadang dia dan kerluarganya harus makan gadung dan sagu saat musim paceklik. Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini, dimana PTNNT telah membangun Dam Plam Po sehingga persawahan di wilayah setempat bisa panen sebanyak 3 kali dalam setahun.

Rumah panggung H Gani
Rumah peninggalan masa lalu

“Dulu saya pernah ditawari menjadi Kades, tapi saya tidak mau tetap menjadi petani. Meski sekarang sibuk dengan pekerjaan saya, tapi tetap tidak bisa meninggalkan pekerjaan sebagai petani,” imbuh Gani.

Sebagai masyarakat di lingkar tambang, ia mengharapkan pemerintah daerah hingga pemerintah pusat agar memperhatikan keberadaan PTNNT. Pasalnya keberadaan PTNNT sudah menjadi tempat menggantungkan hidup terutama bagi masyarakat yang tidak punya ilmu dan tidak punya apa-apa seperti dirinya. Menurut Gani, keberadaan PTNNT betul-betul bermanfaat bagi masyarakat di sini.

“Hampir semua masyarakat Indonesia ada Sekongkang, baik yang bekerja sebagai karyawan PTNNT maupun yang kerja di Sub kontraktor. Newmont membantu pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat. Pemberian bantuan diberikan secara merata sangat diperhatikan Newmont,” pungkasnya. (Muhammad Kaniti)

Komentar

comments

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *