Pulang Kampung, Fahri Hamzah Terkenang Masa Kecil

Sumbawa, PSnews – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengungkapkan rasa syukurnya karena hadir di kampung halamannya pada bulan Ramadhan ini. Hal itu disampaikan Fahri Hamzah pada saat melakukan dialog dengan warga kampungnya di Kecamatan Utan Kabupaten Sumbawa NTB Minggu malam (4/6/2017). “Bagi kita-kita yang keluar kampung, Ramadhan itu adalah nostalgia yang mengembalikan cinta kita kepada Allah, Rasul, ibadah dan kepada kampung yang tidak mungkin kita lupakan. Saya lahir di utan. Rumah kelahiran saya masih ada. Tanah ini tempat tanaman tumbuh dan saya makan. Semua masih ada. Keharumannya masih terasa,” ujar Fahri Hamzah.

Menurut Fahri, saat musim hujan, tanah di Utan ini mengeluarkan nuansa harum yang mendatangkan nostalgia dan cinta.
Politisi yang sering berbicara lantang ini lahir di Utan Sumbawa, NTB pada 47 tahun lalu. Kemudian selepas SLTA, Fahri melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia sejak 1992. “Saya keluar Utan merantau ke Jakarta tahun 1992. Artinya, saya sudah 25 tahun merantau. Seperempat abad. Sebelum ke Jakarta, saya ke Mataram tahun 1990,” papar tokoh eksponen 98 ini.

Fahri lalu bercerita tentang masa kecilnya di Utan pada saat Ramadhan. “Kita menunggu waktu berbuka dan Matahari tenggelam ditemani oleh lampu yang kecil. Selama 30 tahun seperti itu kenangan kita. Kita pada saat itu tidak punya sumber informasi. Ada TV di Puskesmas. TV hitam putih di depan rumah Haji Amin. Kalau malam-malam kita datang nonton. Saya tidur di got (parit) depan TV. Sebenarnya kita datang, mau tidur. Karena yang ditonton tidak kita mengerti. Jam 12 atau jam 1 malam, ibu saya datang, menggendong saya yang sudah tertidur di got. Itulah kenangan masa lalu,” bebernya disambut tawa warga Utan.

Fahri Hamzah kunjungi Bupati Sumbawa – M Husni Djibril yang sedang cuti sakit di rumahnya Kecamatan Utan Sumbawa

Dia mengaku berhutang budi pada daerah kelahirannya. Saat kembali ke Utan ini pada saat Ramadhan, dia merasa mendapat kenangan melimpah. “Saya sangat berhutang budi pada tanah ini. Pada udara yang segar yang mengisi paru-paru kita dan menguatkannya. Lalu kita ingin pulang dan ingin dimakamkan di tanah ini. Dipeluk tanah kampung ini,” pungkasnya. (PSc)

Komentar

comments

Facebooktwitterlinkedinrssyoutube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *