24 Sandro Unjuk Kebolehan Meramu Minyak Sumbawa

Sumbawa, PSnews – Selain dikenal dengan potensi madu hutannya yang bermanfaat bagi kesehatan, Sumbawa juga dikenal dengan minyak tradisionalnya yang diyakini bisa menyembuhkan segala jenis penyakit. Di ajang pagelaran Festival Moyo 2016 ini diadakan lomba malala (meracik minyak) tradisional ala Sumbawa. Kegiatan ini sekaligus menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1438 Hijriah yang diyakini merupakan hari baik meracik minyak.  

H Safar, sandro Minyak Sumbawa dari Kecamatan Buer
H Safar, sandro Minyak Sumbawa dari Kecamatan Buer

Sedikitnya 24 sandro (tabib) dari seluruh Kecamatan di Kabupaten Sumbawa unjuk keboleha dalam lomba malala ini pada Sabtu malam (1/10/2016) di halaman Masjid Agung Nurul Huda yang satu komplek dengan Istana Dalam Loka.

H Sapar, salah seorang sandro dari Kecamatan Buer yang diwawancarai Pulau Sumbawa News, mengaku, bahwa kepiawaiannya meracik minyak Sumbawa merupakan warisan turun temurun dari keluarganya dilanjutkan hingga kini. Dalam kesempatan itu, ia membuat minyak Pamantak Kebo Seribu yang khasiatnya berguna untuk meningkatkan keperkasaan serta menghilangkan pegal linu.
“Untuk membuat minyak, kami harus mencari bahan-bahan utama dari akar dan daun-daunan di dalam hutan di pegunungan yang ada di Sumbawa. Itupun harus dilakukan dalam bulan Muharram,’’ jelasnya.

Abdullah, sandro minyak Sumbawa dari Kecamatan Labuhan Badas
Abdullah, sandro minyak Sumbawa dari Kecamatan Labuhan Badas

Hal yang sama juga disampaikan sandro dari Kecamatan Labuhan Badas – Abdullah, yang mengaku mencari bahan-bahan minyaknya dari tumbuh-tumbuhan di hutan yang ada di Sumbawa. Dalam kesempatan itu, pihaknya membuat minyak Panan Tuja Batu, yang khasiatnya untuk mengobati lemah syahwat, sakit pinggang, luka bakar dan ngilu.

Dari Kecamatan Orong Telu Sandro – M Tahir membuat minyak Telas Manis yang khasiatnya untuk penyembuhan segala macam penyakit, obat kuat, obat urut, patah tulang dan lainnya.

Dalam kegiatan itu, tampak para sandro dan asistennya begitu serius meramu bahan dari akar dan daun untuk dijadikan minyak Sumbawa. Terlihat antusiasme masyarakat yang datang menyaksikan dan secara bergerombolan meminta minyak Sumbawa yang sudah siap digunakan yang dibagikan secara gratis oleh para sandro.

Pada kesempatan itu, Wakil Bupati Sumbawa – Mahmud Abdullah menjelaskan, ada empat pesan yang tersirat dalam tradisi malala.
Pertama, pelestarian lingkungan hidup, di mana bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatan minyak tidak lepas dari ketersediaan akar kayu ataupun kulit kayu serta buahnya. Hal ini dianggap penting agar tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat tersebut harus terus dilestarikan dan dikembangkan. Dalam hla ini yang penting agar manusia tidak melakukan penebangan kayu secara liar atau ilegal logging dan itu harus dilawan karena dampaknya sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia.
Kedua, minyak Sumbawa penting bagi kesehatan. Dengan segala kemampuan dan ikhtiar para sandro, mampu membuat berbagai macam ramuan minyak Sumbawa dengan berbagai macam khasiat.
Ketiga, di sisi ekonomi. Keberadaan minyak Sumbawa membawa dampak yang cukup baik bagi ekonomi masyarakat. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk proses pembuatannya selain akar-akaran, juga buah kelapa dan madu.
Keempat, dari sisi sosial. Khasanah budaya yang sudah diletakkan oleh orang-orang tua terdahulu terus dipelihara dan menjadi bagian dalam interaksi sosial yang memperkuat jati diri dan kebanggaan sebagai Tau Samawa (warga Sumbawa).
“Melalui kegiatan parade prosesi malala ini akan menarik minat generasi muda untuk lebih jauh mengenal dan melestarikan khasanah budaya masyarakat Sumbawa. Demikian pula dengan simbol-simbol keSumbawaan seperti Istana Dalam Loka dan Masjid Agung yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sumbawa yang religius,’’ tandasnya. (PSg)

Komentar

comments

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *