Zulfikar Demitry, Sosok Politisi Kritis dan Santun

Sumbawa, pulausumbawanews.net – Di sebuah ruangan yang tidak terlalu megah namun terasa hangat, Zulfikar Demitry menyambut tamunya dengan senyum tenang. Tidak ada jarak yang sengaja dibangun. Tidak pula terlihat kesan protokoler yang kaku sebagaimana lazimnya seorang pejabat daerah. Senin pagi, 18 Mei 2026, politisi muda dari Partai NasDem itu justru berjalan sendiri menuju meja kecil di sudut ruang kerjanya, lalu menyuguhkan secangkir kopi hangat kepada tamunya tanpa bantuan ajudan.

Sikap sederhana itu seolah menggambarkan karakter Fikar – sapaan akrabnya – yang selama ini dikenal lembut dan tenang dalam menghadapi dinamika politik. Banyak orang menilai, gaya politiknya berbeda dengan sang ayah, almarhum H. Asaad Abdullah. Jika sang ayah dikenal sebagai politisi kritis dengan kritik-kritik tajam terhadap pemerintah, maka Fikar memilih jalur yang lebih teduh: merangkul, mendengar, dan merespons persoalan dengan tutur yang halus.

Namun di balik kelembutan itu, tersimpan jejak panjang pendidikan politik dari rumah tempat ia tumbuh. “Dari kecil saya sering menyimak apa yang dilakukan ayahanda saat berkomunikasi dengan tamu-tamunya,” ujar Fikar saat ditemui Pulausumbawanews.net.

Ia masih mengingat bagaimana ruang tamu rumahnya dahulu kerap menjadi tempat berdiskusi berbagai tokoh penting. Nama-nama besar silih berganti hadir, mulai dari Din Syamsuddin, Bandrul Munir, Jamaluddin Malik hingga Dayat Ratil dan tokoh-tokoh lainnya. Dari percakapan-percakapan itulah, Fikar kecil belajar memahami cara menghormati orang lain, mendengar pandangan berbeda, dan membaca arah kehidupan sosial maupun politik. “Dari beliau-beliau lah saya menimba pengalaman,” tuturnya pelan.

Meski kini telah menetapkan jalan hidup sebagai seorang politisi dan dipercaya menjadi Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Sumbawa periode 2024–2029, Fikar rupanya masih memegang erat pesan terakhir sang ayah. Ada amanat yang hingga kini terus ia jaga: menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar doktor.

Bagi Fikar, politik bukan sekadar panggung kekuasaan, melainkan ruang pengabdian yang harus dibangun dengan ilmu pengetahuan dan adab. Karena itu, di tengah kesibukan menghadiri rapat, menyerap aspirasi masyarakat, hingga menghadapi dinamika politik daerah, ia tetap berusaha menuntaskan pendidikan yang telah lama dirintisnya.

Barangkali di situlah warisan terbesar almarhum H. Asaad Abdullah kepada putranya: bukan hanya keberanian untuk terjun ke dunia politik, tetapi juga kesadaran bahwa seorang pemimpin harus terus belajar agar mampu memahami rakyatnya dengan hati dan pikiran yang jernih. (PSa)

Komentar

comments

Shares

Related posts

Leave a Comment