OPINI : Upaya Pemahaman Remaja Putri Mengenai Dismenorhea

Oleh : Evi Gustia Kesuma, S.Kep.,NS.,Mkes ( Stikes Griya Husada Sumbawa )

Dusun Batu Nisung

Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja yakni antara usia 10-19 tahun, adalah suatu periode pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas.( Rohan, 2017). Pada remaja sebagai tanda kematangan organ reproduksi adalah ditandai dengan datangnya menstruasi (menarche). Menstruasi adalah proses peluruhan lapisan endometrium yang banyak pembuluh darah dari uterus melalui vagina (Kumalasari,2012).

Angka kejadian dismenorhea di dunia sangat besar.Rata-rata lebih dari 50% wanita di setiap Negara mengalami dismenorhea.Di Amerika Serikat angka persentasinya sekitar 60% dan di Swedia sekitar 72%.Sementara di Indonesia angkanya diperkirakan 55% wanita produktif yang terganggu oleh dismenorhea. Karena penderita terbanyak adalah wanita usia produktif, akibatnya dismenorhea juga menyebabkan ketidakhadiran saat bekerja dan sekolah sebanyak 13-51%, wanita telah absen sekali dan 5-14% berulang kali absen sekolah (Februanti, S 2013).

Nyeri menstruasi/dismenorhea adalah ketidakseimbangan hormon progesteron dalam darah sehingga mengakibatkan rasa nyeri timbul, faktor psikologis juga ikut berperan terjadinya dismenorhea pada beberapa wanita. Wanita pernah mengalami dismenorhea sebanyak 90%. Masalah ini setidaknya mengganggu 50% wanita masa reproduksi dan 60-85% pada usia remaja, yang mengakibatkan banyaknya absensi pada sekolah maupun kantor. Pada umumnya 50-60% wanita diantaranya memerlukan obat-obatan analgesik untuk mengatasi masalah dismenorhea ini (Annathaya kheisha,2009).

Di Indonesia angka kejadian dismenorhea sebesar 64,5% yang terjadi dari 54,89% dismenore primer dan 9, 36% dismenorhea sekunder (Rusman,dkk 2014). Pada saat haid, sebagian perempuan ada yang mengalami berbagai gangguan haid yang cukup berat. Misalnya ada sebagian yang mengalami kram karena kontraksi otot-otot halus pada rahim atau dismenorhea.(Anurogo, 2017). Studi pendahuluan di negara – negara berkembang menemukan bahwa 25-50 % wanita dewasa dan sekitar 75% dari remaja mengalami sensasi nyeri selama haid, dengan 5-20% dilaporkan mengalami nyeri berat atau menghambat mereka dari berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari (Sarinengsih, 2012).

Prevalensinya sangat bervariasi. Analisis dari The National Health Examination Survey terdapat 20-90% prevalensi wanita yang mengeluh terjadinya dismenorhea, 15% diantaranya sudah sampai mengakibatkan dismenorhea berat dan terjadi pada wanita usia 12-17 tahun. Menurut Klein dan Litt didapatkan 59,7% dari 2699 wanita dilaporkan mengalami dismenorhea yang 14% diantaranya menyebabkan gangguan aktivitas seperti tidak masuk sekolah karena nyeri tersebut, Dismenorhea banyak dialami oleh wanita yang menstruasi, tetapi banyak pula yang mengabaikan dismenorhea tanpa melakukan upaya penanganan yang tepat. Kondisi tersebut bisa saja membahayakan kesehatan wanita apabila dibiarkan tanpa penanganan.

Dismenorhea dapat menjadi salah satu gejala endometriosis atau penyakit dismenorhea sekunder lainnya, oleh karena itu diperlukan upaya penanganan yang tepat dan benar pada wanita yang mengalami disminorhea terutama usia remaja atau masih dalam masa pubertas. Hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak pada perut bagian bawah saat menstruasi. Dampak dismenorhea pada remaja putri meliputi rasa nyaman terganggu, aktifitas menurun, pola tidur terganggu, selera makan terganggu, hubungan interpersonal terganggu, kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaan dan belajar. Nyeri juga memengaruhi status emosional terhadap alam perasaan, iritabilitas, depresi dan ansietas.

Dismenorhea tidak hanya menyebabkan gangguan aktivitas tetapi juga memberi dampak bagi fisik, psikologi, sosial, dan ekonomi terhadap wanita diseluruh dunia misalnya cepat letih, dan cenderung mudah emosi atau marah. Remaja dengan dismenorhea berat mendapatkan nilai yang rendah (6,5 %), menurun konsentrasi (87,1%) dan absen sekolah (80,6%). Biasanya dismenorhea primer timbul pada masa remaja, yaitu 2-3 setelah menstruasi pertama. Nyeri pada dismenorhea primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin, nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim) terutama jika saluran serviksnya sempit.

Pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh penulis yaitu upaya pemahaman remaja putri di dusun batu nisung mengenai nyeri menstruasi (dismenorhea). Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa STIKES Griya Husada ketika menggali masalah-masalah kesehatan yang ada dalam masyarakat salah satunya kami menemukan hal yang tidak bisa dianggap sepele berhubung organ genitalia ini sangat penting dan vital, beberapa remaja putri di dusun batu nisung cenderung belum memahami mengenai apa itu dismenorhea dan apa yang seharusnya dilakukan ketika nyeri mentruasi itu muncul. Sebagian besar ketika nyeri menstruasi muncul remaja putri hanya mengandalkan obat kimiawi yang memberikan efek lebih cepat untuk menghilangkan nyeri, sedangkan kita tahu bahwa masih banyak hal-hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir hal tersebut. Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik melakukan pengabdian masyarakat di dusun batu nisung mengenai pemahaman remaja putri terhadap nyeri menstruasi (dismenorhea).

Penanganan dismenore bisa dilakukan secara farmakologi dan non farmakologi. Terapi farmakologi antara lain yaitu pemberian obat analgesik, terapi hormonal, obat nonsteroid prostaglandin, dan dilatasi kanalis servikalis. Sedangkan terapi non farmakologi melalui distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing, kompres hangat atau dingin, dan Senam Dismenorhea Latihan-latihan olahraga yang ringan sangat dianjurkan untuk mengurangi dismenorhea. Olahraga/senam merupakan salah satu teknik relaksasi yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri. Hal ini disebabkan saat melakukan olahraga/senam tubuh akan menghasilkan endorphin. Endorphin dihasilkan di otak dan susunan syaraf tulang belakang. Hormon ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami yang diproduksi otak sehingga menimbulkan rasa nyaman.

Tujuan utama setelah dilaksanakan Penyuluhan Mengenai Dismenorhea ( Nyeri Menstruasi) dan Upaya Menanggulanginya Dengan memperkenalkan Senam Dismenorhea dan upaya pencegahan lainnya untuk meminimalisir nyeri menstruasi pada Remaja Putri di Dusun Batu Nisung , diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan reproduksi remaja khususnya tentang Penanganan dismenorhea pada saat menstruasi agar remaja tetap aktif dalm menjalankan kegiatannya.

Kegiatan ini dilakukan pada hari sabtu 4 September 2021 pada pukul 15.00 wita. Sasaran pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu kelompok remaja putri (15-18 tahun) di Dusun Batu Nisung sebanyak 20 orang. Kegiatan dilakukan dengan mengumpulkan secara bertahap remaja putri kemudian dilakukan penyampaian materi, diskusi, dan Tanya jawab dengan waktu yang dibatasi. Kemudian setelah diskusi selesai dilakukan evaluasi untuk mengukur pemahaman remaja putri mengenai materi yang telah disampaikan berupa pertanyaan singkat terkait nyeri menstruasi (dismenorhea).

Hasil kegiatan penyuluhan ini yaitu jumlah remaja putri yang mengalami dismenorhea sebanyak 20 orang dengan skala nyeri berat sebanyak 11 orang (55%), nyeri sedang 3 orang (15%), nyeri ringan yaitu sebanyak 7 orang (30%). Setelah di lakukan Penyuluhan dan membagikan leaflet gerakan senam dismenorhea lalu mempraktekkan dan dijelaskan dengan seksama para remaja putri mengatakan akan menerapkan gerakan senam dismenorhea apabila siklus haid sedang berlangsung guna mengurangi atau meminimalisir nyeri menstruasi (dismenorehea). ***

Komentar

comments

Facebooktwitterlinkedinrssyoutube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *