Gubernur dan Bupati Saksikan MoU SRG dengan Kelompok Tani

Sumbawa, PSnews – Gubernur NTB – Zulkieflimansyah melakukan kunjungan kerja ke Sistem Resi Gudang (SRG) yang ada di Bage Tango Kecamatan Lopok – Kabupaten Sumbawa. Dalam kunjungan tersebut, Gubernur NTB bersama Bupati Sumbawa HM Husni Djibril menyaksikan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman antara kelompok tani dari Desa Pungkit Kecamatan dengan pengelola SRG yaitu koperasi multi niaga. “Kebijakan ini merupakan salah satu arah kebijakan pembangunan ekonomi rakyat sebagaiman tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Sumbawa Tahun 2016-2021,’’ kata Bupati Sumbawa dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Bappeda – H. Iskandar.

Disebutkan, kebijakan afirmasi lainnya untuk petani khususnya petani kecil yang tengah dijalankan saat ini adalah penyaluran Kredit Sahabat atau “Krabat” melalui BUMDes. Alokasi anggaran untuk “Krabat” yang telah berjalan sejak tahun 2016 hingga saat ini telah mencapai Rp 20 milyar. Tahun Anggaran 2019 juga akan dialokasi dalam jumlah yang signifikan. ‘’Pada pertengahan Oktober lalu kami dikunjungi Ibu Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB. Salah satu agenda kunjungannya adalah ke lokasi Gudang SRG ini. Rupanya Ibu Kadis Perdagangan sedang mendapat “PR” berat dari Pak Gubernur untuk mencari solusi atas anjloknya harga bawang yang terjadi belakangan ini,’’ tuturnya.

Jatuhnya harga bawang pada saat panen raya seperti yang dialami saat ini, sambungnya, sejatinya telah dapat diprediksi yaitu karena terjadinya over-supply. Panen bawang yang melimpah dan langsung masuk ke pasaran, sementara permintaan terhadap bawang biasa-biasa saja, sehingga wajar harganya menjadi anjlok. ‘’Disinilah kejelian Ibu Kadis Perdagangan NTB, melihat pentingnya peran Gudang SRG sebagai fasilitas tunda jual petani, agar pada saat panen raya, produksi petani dapat disimpan terlebih dahulu dan baru disalurkan secara bertahap sehingga mencegah terjadinya anjlok harga akibat over-supply,’’ ujarnya.

Karenanya sangat beralasan Dinas Perdagangan Provinsi atas persetujuan Gubernur berniat untuk membangun gudang SRG untuk penyimpanan produk hortikultura seperti bawang di kawasan Gudang SRG ini.

Untuk diketahui acara penandatangan kerjasama ini sesungguhnya akan menjadi rule model dalam membangun bisnis yang mensejahterakan petani dan masyarakat desa. Penandatanganan ini diawali oleh riset kecil-kecilan Bappeda bekerjasama dengan Tim Peneliti Universitas Teknologi Sumbawa. Mereka menemukan sebuah kenyataan menarik yang terjadi di Desa Pungkit yang terletak sekitar 3 Km dari tempat ini. Kawasan persawahan di Desa Pungkit sangat subur dan menjadi salah satu lumbung padi di wilayah timur Kabupaten Sumbawa. Karena kondisi geografisnya yang mendukung, masa tanam padi di desa ini lebih awal, sehingga masa panen gabah terjadi lebih awal dibandingkan yang lain. Masa panen tersebut terjadi di saat puncak musim hujan, atau dalam bahasa Sumbawa disebut panen pada saat Barat Siwa. Tentu melakukan panen pada kondisi seperti itu sangat tidak menguntungkan bagi petani. Kadar air gabah menjadi tinggi, sulitnya pengeringan sementara gabah cepat rusak jika lama disimpan dalam kondisi basah. Karenanya petani Desa Pungkit menjual secara cepat hasil panennya. Dalam kondisi seperti ini, posisi tawar petani menjadi lemah dalam bernegosisasi dengan pembeli. Akibatnya petani menjual hasil panennya dengan harga relatif rendah. Dengan memanfaatkan fasilitas SRG untuk melakukan tunda jual, posisi tawar petani meningkat. Disamping itu petani mendapatkan banyak kemudahan dalam mengelola bisnis pertaniannya. Seperti petani tidak dibebani oleh pembayaran langsung untuk ongkos transportasi, karena ongkos ini akan ditalangi terlebih dahulu oleh BUMDes. Petani tidak dibebani untuk pembayaran langsung untuk ongkos pengeringan, karena ongkos ini akan ditalangi terlebih dahulu oleh pengelola SRG. Petani mendapat uang muka dengan nilai tertentu atas produk yang masuk ke gudang. Setelah gabah telah dilakukan pengeringan, petani berhak atas kredit SRG sebesar maksimal 70% dari nilai sementara produk mereka. Kredit ini sebagian kecil digunakan untuk pembayaran ongkos-ongkos yang timbul, untuk modal kerja menghadapi musim tanam berikutnya dan kebutuhan hidup lainnya. Petani berhak atas informasi harga gabah secara kontinyu, sehingga mereka dapat memutuskan kapan penjualan sebaiknya dilakukan. Pengelola srg sudah bekerjasama dengan beberapa buyer potensial dan melakukan listing komoditi secara online. Kemudian penjualan produk yang tersimpan di gudang SRG mutlak di tangan petani, sehingga diharapkan penjualan dilakukan pada saat harga pasar yang terbentuk telah benar-benar memberikan keuntungan bagi petani. ‘’Kami sependapat dengan Pak Gubernur bahwa arah pembangunan NTB ke depan harus bergerak ke arah peningkatan nilai melalui proses industrialisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dan kami berkeyakinan bahwa model bisnis yang sedang dirintis oleh para petani, BUMDes Desa Pungkit, KPN Multi Niaga selaku pengelola SRG dan BRI Cabang Sumbawa merupakan pola bisnis masyarakat industrialis yang berorientasi nilai tambah dan mensejahterakan petani,’’ tukasnya.

Sementara Gubernur NTB – Zulkieflimansyah berterima kasih kepada Pemda Sumbawa yang telah melakukan terobosan tersebut. Menurutnya ini sangat dibutuhkan sehingga petani mendapat penghasilan lebih baik ke depan dan tidak terjebak dalam anjloknya harga pasca panen. Namun demikian sistem resi gudang ini masih asing. Karena itu Gubernur meminta Kadisperindag Sumbawa untuk mengintensifkan sosialisasi di masyarakat sehingga dapat mengetahui terobosan yang dilakukan pemerintah yang sebenarnya sejak dahulu. ‘’Saya senang penerapan sistem ini telah kita saksikan di Kabupaten Sumbawa, semoga keberadaannya dimaksimalkan dan dimanfaatkan. Dan Pemerintah Provinsi akan memberikan dukungannya,’’ pungkasnya. (PSg)

Komentar

comments

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *