Kasus DBD di Sumbawa Meningkat Drastis

Sumbawa, PSnews – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sumbawa tahun ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa hingga Oktober 2017 telah terjadi sedikitnya 283 kasus DBD. Jumlah ini jauh dibanding jumlah kasus DBD yang terjadi di sepanjang tahun 2016 yakni 134 kasus.

Kepada wartawan, Sekretaris Dinas Kesehatan Sumbawa – Junaidi mengatakan, total kasus DBD untuk tahun 2017 hingga oktober berjumlah 283 kasus. Ini jauh meningkat dengan tahun 2016 yang terhitung hingga desember dengan 134 kasus dan tidak ada korban meninggal dunia. Sementara ditahun ini ada satu penderita yang meninggal dunia akibat DBD dari Kecamatan Lantung.

Dari seluruh puskesmas yang ada, kasus DBD terbanyak ditemukan di puskesmas seputaran Kota Sumbawa. Yakni, di wilayah kerja Puskesmas Unit I dengan 77 kasus, Puskesmas Unit II 41 kasus dan Puskesmas Labuhan dengan 41 kasus. Menurutnya, hal ini terjadi akibat kepadatan penduduk. Sebab dengan jarak rumah yang tidak terlalu jauh, membuat potensi terkena DBD semakin besar. Dimana jarak terbang nyamuk aedes aegypti hanya sekitar 100 meter. ‘’Memang daerah seputaran kota yakni Sumbawa dan Labuhan Badas dari tahun ketahun memang yang paling banyak penderita DBD. Hal itu karena kepadatan penduduk, dimana nyamuk yang menularkan DBD hanya dapat terbang sejauh 100 meter. Sehingga kemungkinan kenanya lebih banyak,’’ ujarnya kepada wartawan, Senin (20/11/2017).

Diterangkan, sumber dan tempat berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti adalah genangan air bersih yang berada disebuah wadah. Bisa seperti di bak, ember, kaleng bekas, ban bekas dan sisa minuman di air kemasan. Untuk mengatasi kasus DBD ini, Dikes melalui Puskesmas Unit I memiliki program juru pemanatu jentik (Jumantik) yang berada di setiap rumah tangga. Sehingga pembasmian jentik jamuk, tidak hanya dilakukan oleh kader kesehatan namun juga oleh warga. ‘’Saya rasa dengan gerakan Jumantik ini bisa menurunkan kasus DBD di Sumbawa. Di sekolah juga kami himbau untuk melibatkan siswa sebagai jumantik. Dan Puskesmas Unit I sebagai awal dari Puskesmas lainnya,’’ jelasnya.

Selain menyerukan Jumantik, pihaknya menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan melalui gerakan standar yakni 3M (menguras, menutup dan mengubur). Kemudian tidak membiasakan diri dengan fogging. Sebab fogging hanya membunuh nyamuk dewasa tidak hingga jentik-jentik nyamuk. ‘’Jadi yang paling bagus itu adalah gerakan PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Jangan biasakan adanya genangan air yang berpotensi sebagai lokasi berkembangnya nyamuk. Artinya bukan kita tidak boleh penampung air, tetapi bagaimana cara rutin air tersebut dibersihkan. Atau kita menggunakan abate, sehingga nyamuk tidak bertelur dan berkembang. Itu yang paling efektif dari pada fogging,’’ pungkasnya. (PSg)

Komentar

comments

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *