Mensukseskan Agenda Ketahanan Pangan Melalui Gerakan Anak Muda Bangga Menjadi Petani

Oleh : Yadi Hartono
(Dosen Fakultas Pertanian & Perikanan UNSA)

Saya ingin mengawali tulisan dengan mengutip pernyataan Bung Karno yang mengatakan bahwa Pertanian adalah soal maju mundurnya suatu bangsa!” Pertanian menyangkut hajat hidup orang banyak, mulai dari petani hingga pejabat sangat tergantung pada hasil pertanian sebagai sumber pangan. Pertanian adalah urat nadi tumbuhnya masyarakat, menentukan corak budaya dan mengukir peradaban.

Meskipun Pangan adalah hidup matinya suatu bangsa, namun pembangunan sektor pertanian sampai dengan 2 tahun masa kepemimpinan jokowi-JK belum juga mengembirakan. Para pakar ekonomi yang tergabung dalam forum Econimis Intelligence Unit (EUI), mengungkapkan bahwa indeks ketahanan pangan kita pada tahun 2015 masih menempati posisi 64 dunia. Angka tersebut jauh dibawah Malaysia (33), China (38), Thailand (45), Vietnam (55) dan Philipina (63). Kondisi yang demikian, menjadikan isu ketahanan pangan sebagai salah satu isu paling strategis dalam pembangunan nasional saat ini dan masa-masa mendatang. Untuk Membangun ketahanan pangan dan memproduksi pangan yang cukup kita dihadapkan pada berbagai tantangan diantaranya:  pertama, Risiko Variabilitas dan perubahan iklim yang terus meningkat, Variabilitas dan perubahan iklim merupakan fenomena iklim yang kerap menjadi ancaman bagi ketahanan pangan kita. Hasil kajian FAO  tahun 2010 menunjukkan bawa variabilitas dan perubahan iklim telah mempengaruhi 11 persen lahan pertanian di negara-negara berkembang dan berdampak pada pengurangan produksi bahan pangan serta menurunkan GDP sampai 16 persen. Demikian hasil kajian Fischear et. Al., tahun 2010 Variabilitas dan perubahan iklim juga telah menurunkan produksi tanaman pangan di kawasan Asia Tenggara antara 2,5 persen sampai 7,8 persen. Senada dengan FAO dan Fischer, hsil kajian Handoko et.al  tahun 2013 juga mengungkapkan bahwa variabilitas dan perubahan iklim telah menyebabkan kehilangan produksi tanaman pangan utama sebesar (-20,6 persen) untuk padi, (-13,6 persen) jagung dan (-12,4 persen) untuk kedelai;

Lalu tantangan kedua yaitu Rendahnya kenaikan produksi komoditi Pangan kita. Sepanjang periode 2010-2014, produksi untuk 4 komoditi pangan utama (padi, kedelai, cabe merah dan bawang merah) tidak menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan. Pada tahun 2014 Produksi padi hanya meningkat sebesar 0,98 persen dari tahun 2010. Demikian halnya dengan 3 komoditi pangan lainnya  masing-masing peningkatnya sebesar 0,95 persen untuk kedelai, 0,87 persen untuk cabe merah dan 0,87 persen untuk bawang merah. Dari data produksi tersebut menegaskan bahwa pada satu sisi peningkatan produksi komoditi pangan yang melambat, di sisi lain kebutuhan pangan terutama beras terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Hal ini berdampak pada ketidak seimbangan antara cadangan pangan dengan kebutuhan konsumsi kita. Kedepan tantangannya jaub lebih berat, karena diperkirakan pada tahun 2020 jumlah penduduk kita mencapai 262 jiwa.  Dengan asumsi konsumsi beras 134 kg per kapita, maka  kebutuhan beras nasional mencapai 35,1 juta ton atau setara dengan 65,9 juta ton GKG. Sejauh ini cadangan beras nasional hanya berkisar antara 1,3 – 1,9 juta Ton. Jumlah tersebut, masih jauh dari angka ideal yang direkomendasikan oleh FAO yakni sebesar 6,5 Juta Ton dengan jumlah penduduk yang ada saat ini.  Memang penyediaan pangan di masa-masa mendatang akan berkejaran dengan pertumbuhan penduduk yang melonjak dengan cepat. Bayangkan untuk mencapai penduduk 100 juta jiwa, indonesia memerlukan ribuan tahuan, namun setelah itu indonesia hanya perlu waktu sekitar 35 tahun untuk menjadi 200 juta jiwa (tahun 1998).

Kondisi cadangan pangan yang demikian rapuh tersebut, diperparah lagi oleh perilaku hidup yang gemar membuang makanan. FAO mencatat ada sekitar 13 juta metrik ton makanan yang terbuang. Jumlah tersebut  bisa  memberi makan hampir 11% populasi Indonesia, atau sekitar 28 juta penduduk setiap tahunnya. Angka yang hampir sama dengan jumlah penduduk miskin kita. Lebih lanjut FAO, menerangkan bahwa Negara lain di luar Indonesia bahkan lebih buruk lagi. Makanan yang terbuang di dunia setiap tahunnya bisa memberi makan sepertiga penduduk dunia yang masih kelaparan, jumlah yang sama dengan kebutuhan pangan di Afrika. Perilaku membuang makanan sedikit tidak dipengaruhi oleh kapitalisme global. kampanye produk “beli dua dapat tiga”. telah mendorong orang untuk membeli jauh lebih banyak dari yang ia butuhkan.

Kemudian tantangan ke-3 kita yaitu Konversi lahan yang tidak terkendali. Dalam 10 tahun terkahir, konversi lahan pertanian produktif ke penggunaan non pertanian berlangsung secara masif. Lahan sawah kini lebih menguntungkan untuk dijadikan real estat, pabrik, dan infrastruktur untuk industri lainnya. Kementan mencatat, laju konversi lahan sawah mencapai 100 ribu hektar per tahun. Sedangkan kemampuan pemerintah dalam mencetak sawah baru terbatas pada angka 40 ribu hektar per tahun. Parahnya lagi konversi lahan sawah sekitar 80 persen terjadi pada centra produksi pangan nasional kita yaitu pulau jawa.  .

Tantangan ke-4 yaitu Harga komoditi pangan yang tidak stabil. Stabilitas harga pangan pokok merupakan salah satu indikator ketahana pangan.  Selama periode 2009-2013 perkembangan harga pangan pokok untuk kedelai relatif stabil. Namun harga tersebut stabil pada tingkat harga yang relatif tinggi. Sedangkan untuk komoditi beras, cabe merah dan bawang merah cenderung mengalami gejolak harga. Pada tahun 2015 Harga beras misalnya terjadi kenaikan 62 persen dibandingkan pada tahun 2010. Demikian untuk cabe merah dan bawang merah, masing-masing kenaikan sebesar 30 persen dan 149 persen.

Disamping 4 tantangan tersebut, Krisis Regenerasi Petani adalah Tantangan Baru yang kita hadapi dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan saat ini. Kita amat berbangga dan bersyukur karena dikaruniai  negeri yang sumberdaya alamnya melimpah. Minyak, mineral, laut, hutan dan sawah-sawah yang kita miliki membentang luas di berbagai pulau dari sabang samapi marauke. Namun di balik keberkahan tersebut, terselip satu fakta tentang semakin kurangnya minat anak muda untuk menjadi petani. Tak ada lagi anak muda yang bangga berkata ingin menjadi petani. Mereka minder, dan bahkan mereka Malu menjadi petani.”

Hasil kajian Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) melaporkan bahwa 63% anak petani padi dan 54% anak petani hortikultura tak ingin menjadi petani. Demikian juga dari sisi orang tua, 50% petani padi dan 73% petani hortikultura menyatakan tidak ingin anaknya menjadi petani. Para orang tua ingin anaknya kelak bekerja di sektor lain, yakni pekerjaan dengan pendapatan rutin, pakaian rapi, rungan sejuk dan wangi. Kita sering mendengar para orang tua bilang kepada anaknya “Jangan seperti ayah yang cuma petani.” Kata itu menegaskan bahwa menjadi petani adalah pilihan yang paling buruk di tengah begitu banyak profesi. Ada rasa rendah diri serta rasa minder ketika menyadari dirinya sebagai petani, lalu tumbuh harapan agar kelak sang anak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Situasi ini ternyata telah mendorong penurunan tenaga kerja pertanian. Ada sebanyak 3,15 juta petani yang bermigrasi ke profesi lain dalam kurun 2010 -2014. Senada dengan hasil kajian KRKP, BPS juga melaporkan bahwa dalam kurun 2003 -2013, jumlah rumah tangga tani berkurang hingga 5 juta. Tragisnya lagi Petani yang tersisa saat ini usianya sudah mendekati 50 tahun, ini hampir mendekati umur terakhir untuk seorang jadi petani yakni 57 tahun. Lalu 73,97 % diantaranya mereka berpendidikan setingkat SD, dan akses pada teknologi baru yang sangat rendah. Tanpa ada upaya pemerintah untuk menarik minta anak muda ke sektor ini sehingga terjadi regenerasi, diprediksi pada tahun 2019 jumlah petani kita tinggal 34 juta.

Sebenarnya  fenonomena ini terjadi di banyak negara, tidak hanya  di Indonesia. FAO mencatat bahwa  Di Britania Raya misalnya, Ketika lebih dari 1.500 anak muda ditanya apakah mereka akan mempertimbangkan karier di bidang pangan atau pertanian, 96% berkata tidak. mereka menyebut pekerjaan tersebut “membosankan”, “kuno”, dan “berpendapatan rendah”. Tantangan terkahir tersebut, sedikit tidak menjadi tangung jawab kita. Perguruan tinggi setidaknya bisa membongkar persepsi anak muda, mahasiswa dan calon sarjana yang buruk terhadap sektor yang mengeyangkan kita semua. Penulis melalui tulisan ini ingin berbagi kisah sukses beberapa anak muda yang sangat inspiratif. Penulis akan mengawalinya dengan cerita pemuda asal Korea dan Taiwan yang bertani di Kota Malang. Dari tangan mereka kita bisa menyaksikan tomat buah yang kalau dilempar tidak penyok dan saat ini hasil budidayanya telah masuk pasar ekspor dan hasil yang diperoleh sunggu luar biasa. Lalu ada Miftahul huda Sarjana Pertanian lulusan IPB yang dengan keyakinan penuh memilih profesi menjadi petani. Meskipun pada awalnya penuh perjuangan melawan penilaian negatif keluarga dan masyarakat, namun sekarang bisa menjadi contoh keberhasilan bagi petani sekitarnya. Keberanian melawan arus dengan meninggalkan pekerjaan “kantoran” telah membuahkan hasil. Budidaya kentang yang ditekuninya di Banjarnegara, Jawa tengah itu telah berkembang sangat pesat.

Kisah inspiratif lainnya yaitu Saiful Arif petani muda dari Tuban, Jawa Timur. Sarjana pendidikan  yang disandangnya tidak menjadi kendala buatnya untuk menekuni bisnis bidang pertanian tanaman hortikultura. Naluri bisnis yang begitu kuat mengantarnya pada kesuksesan saat ini. Kemudian juga ada Sinar, petani muda dari Bangka Belitung. Terobosanya dalam menjembatani pemasaran produk pertanian para petani dengan pedagang telah membantu petani dalam meraih banyak nilai tambah bagi produknya.

Kisah pemuda diatas, menegaskan kepada kita semua bahwa untuk Sukses tidak harus ke kota, tidak harus di jadi pegawai negeri, dan tidak harus jadi karyawan swasta. Akhir dari tulisan ini, penulis ingin mengutip ungkapan Luke Walsh seorang Trainere mengatakan bahwa  “Agrikultur tidak hanya bercocok tanam, tetapi terdapat ribuan jalur karier yang berbeda dan semua sama pentingnya yaitu untuk [memberi makan] dunia.” SALAM SUKSES PEMUDA TANI PERTANIAN INDONESIA“ (***)

Komentar

comments

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *