Hikmat UNSA di Usianya yang ke 17

OPINI

Oleh : Heri Kurniawansyah HS
(FISIP UNSA)

Memaknai Sejarah Perjuangan Menuju Tahun ke 17

  Pulau Sumbawa memiliki luas hampir dua kali luas pulau Bali. Sekitar tahun 1970-an, kabupaten yang begitu luas dengan keanekaragaman budaya ini belum ada satupun lembaga pendidikan tinggi sebagai wadah anak daerah dalam rangka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah menempuh pendidikan menengah. Pulau Jawa tetap menjadi muara berlabuh bagi calon-calon mahasiswa karena tidak ada pilihan lain lagi. Baru di penghujung tahun 1976 berdiri  Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan (STIP) program sarjana muda yang bernaung dibawah Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Samawa sebagai satu-satunya sekolah tinggi yang ada di Kabupaten Sumbawa. Seiring dengan dinamika dunia akademik, akhirnya dengan segenap usaha yang dilakukan para pemikir pendidikan tanah Samawa, keluarlah Surat Keputusan (SK) penyesuaian institusi dari STIP menjadi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) pada akhir tahun 1986. Seiring dengan progressnya pada masa itu, aspirasi untuk mendirikan sebuah Universitas begitu mengemuka. “Mereka” para pendekar pendidikan menangkap aspirasi tersebut. Dalam perjalanannya begitu banyak rasa pesimis dan rintangan yang dialami oleh UNSA terlebih karakter masyarakat yang masih cendrung bangga dengan pendidikan daerah lain, namun dengan segenap usaha “mereka” akhirnya keluarlah SK. Mendikbud. nomor: 176/D/O/1998 tertanggal 29 Desember 1998 dan sekaligus dipatenkan menjadi hari lahirnya UNSA serta pada saat hari jadi itulah UNSA selalu mewisuda mahasiswa/i setiap tahunnya.

Ditengah kondisi pusaran politik, ekonomi, masyarakat dan daerah yang sangat tertinggal di kawasan Indonesia Timur serta sangat kurangnya instrumen dan sumber daya, namun sebuah universitas atau lembaga perguruan tinggi berhasil didirikan adalah sebuah kebanggaan dan prestasi yang sangat luar biasa yang patut diapresiasikan. Manfaatnya sangat dirasakan oleh semua pihak baik secara ekonomi, politik, sosial budaya secara personal maupun secara organisatoris. Itulah essensi pejuangan yang harus diilhami oleh para generasi.

Saat ini UNSA sudah memasuki usianya yang ke 17 atau anak muda sering menyebutnya dengan sebutan “sweet seventeen”. Tahun demi tahun berlalu Unsa menapaki dirinya sebagai sebuah lembaga pendidikan yang dapat dipehitungkan dan menjadi rumah pendidikan bagi para generasi. Jika Unsa adalah sebuah manusia, maka usia tersebut adalah usia yang sangat produktif dan usia yang sudah cukup dewasa mengerti akan sebuah perjalanan hidup. Sejak lahir sampai saat ini sudah melewati asam garamnya dunia pendidikan maupun dunia politik dan keperintahan, berbekal pengalaman tersebut sehingga UNSA sangat kokoh dalam perspektif organisatoris. Tidak ada yang menyangsikan akan eksistensinya.

Berbenah dan Mengevaluasi Diri (Progress UNSA di Usia yang ke 17)

Dari tahun ke tahun pembenahan dan pengevaluasian diri terus dilakukan. Sebagai sebuah Universitas yang menjunjung tinggi sebuah aturan, saat ini UNSA masuk sebagai peringkat dua regional setelah universitas tertua dan negeri di Provinsi ini (UNRAM) dan 137 secara nasional dari ribuan kampus di Nusantara ini. UNSA juga Termasuk juga 138 perguruan tinggi yang sudah Akreditasi Institusi BAN PT dari 5000 lebih PT yang belum AIPT, bahkan satu-satunya lembaga pendidikan tinggi yang ada di Pulau Sumbawa sudah didatangi oleh tim BAN PT untuk melakukan penilaian terhadap institusi.

Peringkat yang terus menanjak adalah didasarkan pada beberapa faktor terutama pengabdian kepada masyarakat melaui riset (penelitian) baik oleh mahasiswa, para dosen, lembaga serta kepemimpinan yang solid. Para dosen yang sudah banyak yang mendapatkan atau lulus sertifikasi dosen oleh DIKTI adalah indikator konkrit kemajuan UNSA secara kelembagaan. Para dosen yang tergabung dalam grup peneliti atau lembaga riset seperti Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNSA (LPPM UNSA), Pusat Studi Hukum dan Ham UNSA (PUSHAM), UNSA Progress, Pusjastra atau lembaga-lembaga eksternal para dosen seperti Samawa Center, Puskap, Lanskap, Samawa Cerdas, Fokus, dan yang lainnya selalu dibutuhkan oleh daerah dalam rangka sebagai panduan kebijakan atau dalam mempengaruhi kebijakan yang diperuntukan kepada perubahan kearah yang lebih baik. Disisi lain sudah banyak prodi-prodi yang ada di UNSA yang telah mendapatkan akrediasi B, sebab masih banyak universitas-universitas besar yang justru belum mampu mendapatkan akreditasi tersebut. Alumni-alumni yang sudah berpretasi di bidangnya masing-masing, sebut saja sebagai politisi, birokrat, penyelenggara pilkada, BUMN, entrepreneur, pimpinan organisasi-organisasi non pemerintah, dan lain-lain.

Strategi lain yang selalu dilakukan adalah dengan menggalakkan kerjasama dengan lembaga pendidikan lainnya, dengan para pengusaha atau investor maupun dengan lembaga-lembaga lainnya dalam rangka membangun komunikasi melalui Memorandum of Understanding (Mou) untuk bersama-sama mendapatkan manfaat baik secara akademik maupun ekonomi, terutama dalam menunjang orientasi akademik.

Eksistensi UNSA selama ini telah memberikan warna tersendiri dalam dinamika kedaerahan. Tidak hanya itu, Keinginan masyarakat Pulau Sumbawa memiliki sebuah universitas negeri telah lama mengemuka, seiring dengan akan terbentuknya Provinsi Pulau Sumbawa (PPS). Keinginan itu bukanlah sekedar bersifat simbolik, dimana di provinsi NTB hanya memiliki satu universitas negeri. Namun lebih dari itu Pulau Sumbawa membutuhkan Universitas negeri sebagai lembaga pengembangan Sumber Daya Manusia untuk mengejar ketertinggalan dari kabupaten-kabupaten lain.

Euforia Kreativitas Mahasiswa Menyambut Dies Natalis (Moment Wisuda)

          Menyambut Dies Natalis UNSA yang ke 17, para mahasiswa melalui UKMnya dengan semangat penuh kreativitas melaksanakan segala aktivitas konstruktif dan ilmiah dalam menyambut usia UNSA yang ke 17. Diantara kegiatan tersebut adalah Launching dan bedah buku hasil karya dosen-dosen UNSA serta buku Biografi Syaifuddin Iskandar yang ditulis oleh mantan mahasiswanya di UNSA yang dilaksanakan oleh BEM Universitas dan FISIP UNSA, Karya Bakti Relawan se Pulau Sumbawa yang dilaksanakan oleh UKM KSR unit UNSA, Jalan sehat oleh Prodi Penko, Scout Skill Exhibition, Public Lecture-Film dan Teater-Adi Pranajaya oleh UKM seni, Kemah Kenal Peternakan oleh Prodi Peternakan, Job Fair oleh Prodi Penko, Lomba Karya Ilmiah oleh BEM, Pekan Olahraga Kampus (Porkam) oleh UKM Olahraga, Islamic International Daurah oleh Lembaga Dakwah Mahasiswa (LDM), Pasar Budaya/Pekan Budaya Mahasiswa (PBM) yang merupakan miniatur Festival Moyo yang diselenggarakan oleh Prodi Penko, Lomba mewarnai tingkat PAUD, TK dan SD se Kabupaten Sumbawa oleh BEM fakultas Ekonomi, Civil Enginering Photografy Competition oleh Fakultas Tehnik, Pramuka se Pulau Sumbawa oleh Racana UNSA, Lomba kreativitas Miniatur fakultas masing-masing/maket serta seminar-seminar ilmiah lainnya. Disisi lain  sebagai acara hiburan ada juga beberapa pentas seni dan music termasuk dosen dalam kegiatan PBM mahasiswa.

Serangkaian kegiatan tersebut merupakan kado untuk kampus tercinta dari mahasiswanya di usianya yang ke 17. Kreativitas-kreativitas tersebut adalah kerja mandiri para mahasiswa yang dibimbing oleh para dosen sebagai bagian dari proses pengabdian oleh mahasiswa. Seiring dengan Dies Natalisnya, UNSA juga melaksanakan agenda substantif dari serangkaian kegiatan tersebut yaitu ageda wisuda berjumlah 800 mahasiswa dari seluruh fakultas yang ada, dan ini merupakan jumlah wisudawan terbanyak sepanjang sejarah UNSA.. ekspektasi kedepan adalah para alumni tersebut mendapat tempat dalam dunia kerja sesuai dengan bekal selama menjadi mahasiswa. Tentu dengan moment sakral tersebut menjadi bagian sejarah perjalanan UNSA untuk tetap berbenah menjadi panutan dunia pendidikan serta menjadi ikon perubahan pembangunan Sumbawa secara khusus. Semoga dengan semakin bertambah usianya, UNSA semakin  menampilkan progress untuk tahun-tahun berikutnya. Jayalah UNSA.

Komentar

comments

Related posts

2 Thoughts to “Hikmat UNSA di Usianya yang ke 17”

  1. nang

    Semoga unsa dg hari jadinya yg ke-17,tdk puas dan terlena dg kecapaian yg sudah ada,tp mari bangkit,trus memajukan diri baik dosen,mhs,komponen unsa melakukan perubahan dari kekurangan2 yg ada tuk kejayaan unsa pada masa mendatang.riset perlu ditumbuhkembangkan baik pada dosen,mhs dsb agar tujuan pendidikan tinggi menghasilkan output yg berkualitas dan mampu tingkatkan kesejahteraan hidup oleh alumni unsa tentunya.selamat dan sukses buat unsa.amiin

  2. Nak tanya, salahkah ikan keli memakan bangkai ikan keli yang lain? Haramkah hukum memakan ikan keli yang makan bangkai? Bagaimana dengan ikan2 di laut seperti ikan kembung, selar kuning, dan tenggiri? Adakah dapat dipastikan ikan-ikan itu tidak makan bangkai? Bagaimana pula dengan ayam kampung yang makan cacing? Wallahu a’lam.

Leave a Comment