Sumbawa, pulausumbawanews.net – Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., menegaskan bahwa upaya pengurangan risiko bencana tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau relawan. Menurutnya, ketangguhan menghadapi bencana harus dibangun dari desa melalui budaya mitigasi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Penegasan itu disampaikan saat membuka Workshop Pertemuan Koordinasi Multi Pihak Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Sumbawa bertema “Penguatan Kolaborasi Ketangguhan Desa dalam Mendukung Implementasi Sumbawa Hijau Lestari” di Aula H. Madilaoe ADT Lantai III Kantor Bupati Sumbawa, Kamis (6/8).
“Jangan menunggu bencana terjadi baru kita bergerak. Ketika melihat potensi bahaya, segera lakukan tindakan. Itulah budaya mitigasi yang harus kita bangun bersama,” tegas Bupati Jarot di hadapan kepala perangkat daerah, jajaran FPRB, akademisi, pemerintah desa, dan berbagai pemangku kepentingan.
Bupati menilai, kesadaran masyarakat dalam mengenali dan mengantisipasi potensi bencana merupakan fondasi utama membangun daerah yang tangguh. Karena itu, ia menginstruksikan seluruh pemerintah desa di Kabupaten Sumbawa untuk rutin melaksanakan gotong royong membersihkan lingkungan sebagai langkah nyata pencegahan dini.
Menurut Jarot, Kabupaten Sumbawa memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, namun juga menyimpan berbagai potensi ancaman bencana. Kondisi tersebut menjadi alasan penting mengapa Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus memperkuat implementasi Program Sumbawa Hijau Lestari sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Ia menegaskan, Sumbawa Hijau Lestari bukan sekadar gerakan penghijauan, tetapi gerakan membangun kesadaran kolektif dalam menjaga keseimbangan alam.
“Menanam pohon berarti menjaga sumber mata air. Melindungi hutan berarti mengurangi risiko longsor. Mengelola sampah berarti mencegah banjir. Menjaga mangrove berarti melindungi pesisir dari abrasi. Semua itu adalah bagian dari upaya mengurangi risiko bencana,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen menjaga kelestarian lingkungan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga memperkuat pengawasan terhadap praktik pembalakan liar melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Hutan.
Sementara itu, dalam laporan Ketua FPRB Kabupaten Sumbawa yang dibacakan Wakil Ketua I, Zainuddin, S.H., disebutkan bahwa workshop ini bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor dalam pengurangan risiko bencana sekaligus mendukung implementasi Program Sumbawa Hijau Lestari.
Sebanyak 73 peserta yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, pemerintah desa, akademisi, organisasi, dan berbagai pemangku kepentingan mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen memperkuat kolaborasi menuju desa yang tangguh terhadap bencana.
Menutup sambutannya, Bupati Jarot mengajak seluruh perangkat daerah, camat, kepala desa, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, serta Forum Pengurangan Risiko Bencana untuk terus memperkuat sinergi menjaga lingkungan dan membangun budaya kesiapsiagaan. “Pembangunan hanya akan berkelanjutan apabila berjalan seiring dengan upaya pengurangan risiko bencana. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, saya yakin Sumbawa akan menjadi daerah yang semakin tangguh menghadapi bencana, lingkungannya semakin lestari, dan masyarakatnya semakin sejahtera menuju Sumbawa Unggul, Maju, dan Sejahtera,” pungkasnya. (PSa)
