Pemerintah Harus Pikirkan Nasib Pedagang Ikan, Jangan Sebaliknya

Kondisi Pasar Seketeng yang sembrawut sejak dulu, merupakan persoalan klasik yang belum dapat dipecahkan oleh para penentu kebijakan di daerah ini hingga sekarang. Mulai dari persoalan kemacetan lalu lintas, hingga penampilannya yang tidak tertata rapi atau kumuh.
Ketika Bupati Sumbawa – Husni Jibril yang baru tiga bulan menjabat berkeinginan untuk melakukan upaya penertiban, masyarakatpun menyambut dengan antusias. Namun ironisnya, keinginan itu justru mendapat tantangan dari sejumlah anggota DPRD Sumbawa yang berpihak membela para pedagang ikan yang tidak bersedia mengikuti seruan pemerintah untuk berjualan di dalam pasar. Dan mereka pun meminta kepada dinas teknis agar menunda penertiban sambil melakukan pengkajian agar tidak ada pedagang yang dirugikan.
Rasa penasaran ini pun muncul di benak saya. Kenapa ada pejabat publik yang menolak keinginan baik bupati untuk melakukan penertiban pasar Seketeng. Lalu saya menemui seorang anggota dewan yang konon paling getol membela para pedagang ikan, yakni Rusli Manawari (RM) dari fraksi PPP.
Inilah petikan perbincangan kami pada Kamis (12/05/2016) di Sekretariat DPRD Kabupaten Sumbawa.

Kenapa anda begitu getol menentang upaya Tim Terpadu yang dibentuk Bupati untuk menertibkan Pasar Seketeng ?

Rusli MRusli Manawari : Saya tidak menentang, justru sebaliknya saya mendukung upaya penertiban yang dilakukan oleh Tim Terpadu yang dibentuk Bupati. Hanya saja harus proporsional. Jangan sampai pedagang ikan yang memikirkan pemerintah. Yang benar itu, justru pemerintahlah yang harus memikirkan nasib para pedagang ikan. Logikanya jangan terbalik. Jangan hanya karena untuk kepentingan menghindari kemacetan lalu lintas, lalu hak para pedagang ikan mau dikebiri. Lalu mereka mau makan apa? Kalau hanya karena alasan menghindari kemacetan, saya setiap ke kantor selalu lewat di depan Pasar Seketeng dan memang sering macet. Tapi saya tidak merasa gerah, sebab pakai mobil yang dilengkapi AC (Air Conditioner). Coba bandingkan dengan para pedagang ikan itu. Mereka rela berjualan di bawah terik matahari hanya untuk mencari sesuap nasi. Sementara kita enak-enak di dalam ruangan berAC. Disamping itu, kalau memang keinginan pemerintah melakukan penertiban hanya karena faktor menghindari kemacetan, kenapa tidak menertibkan kemacetan lalu lintas yang selalu terjadi di depan pertokoan Toko Roberto misalnya? Kok justru pedagang kecil yang dipersalahkan? Logika inilah yang mestinya ditanamkan di benak para pejabat pemerintah. Jangan terbalik !

Bukankah pemerintah telah menyediakan tempat khusus bagi para pedagang ikan di dalam pasar ? Kok masih ada yang tetap ingin bertahan berjualan di depan ?

Rusli Manawari : Di dalam pasar itu tempatnya tidak akan bisa menampung jumlah pedagang ikan yang kian banyak seperti sekarang ini. Selain itu, saluran pembuangan air ikan di dalam pasar tidak refresentatif. Demikian pula saat membawa ikan ke dalam pasar dianggap mengganggu pedagang komoditas lain, terutama pedagang tekstil. Ini kalau dibiarkan bisa terjadi bentrok antar pedagang di dalam sana. Bayangkan, bila air ikan dari dalam coldbox yang dibawa lalu menetes di barang dagangan pedagang lain, kan bahaya jadinya.

Kenapa anda begitu getol membela pedagang ikan? Apakah karena anda tinggal di Labuhan Sumbawa yang notabene penduduknya sebagian besar terdiri dari nelayan dan pegadang ikan?

Rusli Manawari : Saya lahir dari rahim seorang pedagang ikan. (Rusli Manawari kemudian terdiam sejenak sambil berkaca-kaca). Bahkan saat masih kecil, saya sering diajak ibu saya untuk jual ikan di pasar. Jadi saya dapat merasakan betapa susahnya para pedagang ikan mencari nafkah. Dan mereka (para pedagang ikan) yang berjualan di Pasar Seketeng, umumnya para pendukung saya pada setiap Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg), sehingga bisa duduk sebagai anggota dewan hingga sekarang ini. Sebagian besar dari mereka, satu kampung dengan saya di Karang Padak Labuhan Sumbawa. Saya siap pasang badan untuk mereka. Jabatan ini saya pertaruhkan untuk mereka.

Okey. Sekarang faktanya anda sudah tahu, bahwa kondisi Pasar Seketeng yang kian sempit amat sulit menampung jumlah pedagang ikan yang kian banyak seperti saat ini. Kira-kira apa solusi yang anda harapkan dari kondisi ini?

Rusli Manawari dari fraksi PPPRusli Manawari : Saya tidak terlalu paham dengan masalah teknis. Itu urusan pegawai-pegawai yang ada di dinas teknis. Saya berharap kepada Tim Terpadu agar menunda penertiban dulu, sambil melakukan pengkajian terutama tentang mau dikemanakan para pedagang ikan yang ada di pasar itu? Kalau memang mau disuruh ke dalam pasar, tuntaskan dulu saluran pembuangan air limbah ikannya. Selain itu, pikirkan juga soal pedagang lain yang sering komplain ketika proses pengangkutan ikan ke dalam pasar, lantaran tetesan air ikan sering mengotori barang mereka.
Kami tunggu apapun hasil kajian Tim terpadu di DPRD. Dan akan bersungguh-sungguh untuk membackup anggaran khususnya tentang apapun yang menunjang kenyamanan bagi para pedagang ikan di pasar Seketeng.
Para pedagang ikan yang umumnya berdomisili di Labuhan Sumbawa itu, tidak perlu dibantu anggaran oleh pemerintah untuk membangun fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus). Daripada seperti itu, lebih baik anggaran untuk membangun MCK tersebut bisa dialihkan untuk memberikan jaminan pada pedagang ikan agar bisa berdagang dengan nyaman, sehingga bisa membuka peluang peningkatan ekonominya. Kalau penghasilannya sudah meningkat, maka mereka bisa membangun MCK sendiri tanpa harus dibantu dengan anggaran oleh pemerintah. (Didi Dirgantara)

Komentar

comments

Facebooktwitterlinkedinrssyoutube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *